Kamis, 31 Juli 2014

Semut merah

"Eh, ada manusia tuh."
"Mana?"
"Itu. Segede gitu masa' gak keliatan."
"Lah kan kita buta."
"Oh iya, lupa."

Begitulah percakapan semut merah yang menyebar di tong sampah. Awalnya mereka sembunyi dan hidup tentram di dalamnya. Kawanan mereka masih lengkap dan persediaan makanan sangat berlimpah.

Namun di siang yang terik, seorang manusia melangkah dan mengangkat tong sampah tersebut. Semut merah mulai siaga dan berjaga. Mereka keluar dan menyebar di seluruh permukaan jagat tong ini.

Manusia itu mulai berjalan dan berjalan. Hingga tiba di tempat biasanya untuk membuang sampah. Saat itu juga ia meletakkan tong tersebut dan mulai mencari posisi untuk membuang.

Di angkatlah tong itu, para semut mulai berlarian dan jatuh ke tanah. Satu dua semut merah itu berjalan menuju kaki manusia. Mencari posisi dan CLEKIT!

"Awww, semut nakal. Rasakan ini!"

Sang manusia menginjak-injak semut tersebut dan bersegera untuk kembali. Tapi apa daya, kaki manusia itu sudah terlanjur kena. Gatal menyeruak lalu kaki bengkak. Sungguh malang nasibnya.

Kini kakinya harus bersabar dan ikhlas menerima. Ya bagaimanapun juga, semut tidak bersalah. Itu hanya caranya untuk melindungi diri.

Minggu, 27 Juli 2014

Selasa, 08 Juli 2014

Maaf

Aku ekspresif saat keadaan tak memihak. Aku lebih suka menunjukkan, daripada mengatakan. Aku ingin kamu paham bahwa aku kecewa.

Bukan untuk apa-apa, aku hanya ingin kamu peka. Tapi apa daya, terkadang itu justru membunuh perlahan. Membunuh sebuah hubungan yang ingin aku pertahankan.

Aku menyayangimu. Marah padamu saja aku tak bisa. Justru aku marah padaku. Mengapa aku tak menghargai sabarmu.

Sabtu, 05 Juli 2014

Kamu

Bukan aku tak mau meyakinkan, tapi dalam diam aku merasa nyaman. Aku merasa ini diriku. Yang mungkin butuh ekstra penglihatan dalam menafsirkan apakah aku sudah berusaha.

Bukan aku tak mau mengatakan, tapi aku takut kamu berpikiran ganda ketika ada yang ganjil. Aku sungguh tak ingin menyakitimu. Kalau sampai itu terjadi, mungkin ada yang perlu kita bicarakan.

Bukan aku tak mau mempercayaimu, aku hanya lepas kontrol saat melihatmu dengan yang lain. Mungkin terlihat kurang dewasa. Tapi entahlah, aku belum siap melihatmu pergi.

Bukan aku tak mau menemuimu, tapi aku takut seseorang mengetahui keberadaanmu. Harusnya jika aku berani menyayangimu, aku tidak takut untuk ambil resiko. Tapi kali ini, dengan aku melakukan hal itu, justru akan menyeretmu ke dalam masalah.

Mungkin terlihat rumit. Tapi sebagai yang menjalaninya, aku bahagia. Aku menikmati rindu yang nyata, walau obatnya percakapan maya.

Aku tak masalah bila akhirnya harus menunggu lebih lama untuk waktu terbaik saat bertemu. Kalaupun hanya sebentar, setidaknya ada rindu baru yang tercipta bukan?

Komunikasi adalah nyawa hubungan. Karena ketika ada masalah dan kita bicarakan, aku bisa tau seberapa keseriusanmu untuk bertahan.

Mungkin sekian, tanggal 5 yang spesial. ;)