Sabtu, 01 November 2014

Mwah

Mat Moen, 1 November 2014

Membahagiakan! Kumpul sama Fafa, Cicik, dan Tika. Berasa udah lama banget gak kayak gini. Dan di perkumpulan bukan pkk ini, kita flashback. Mulai dari jaman SMP sampai SMA.

Sama mereka itu gak ada yang namanya gengsi. Makan aja nih ya, makan roti bakar pake garpu kan susah, soalnya bagian bawah itu gak di iris sampai tembus, alhasil pake tangan. Awalnya gengsi gitu, mikir kalau nyuil pake tangan, duh kok ndeso banget. Tapi ah bodo amat, dan ternyata kita semua pake tangan. :p

Banyaklah yang di kenang. Sampai pipi kemeng banget ketawa mulu.

Hehe. Sekian. Ini hanyalah tulisan buat di ingat, iya buat menandai bahwa kita masih bisa ketemu dan kumpul. Entahlah. Mungkin untuk waktu kedepannya, who knows? Yang jelas, hari ini membahagiakan! Thank you so much mwah!

Sabtu, 25 Oktober 2014

Kesendirian

Akhir-akhir ini kesedihan sedang mendekap. Membawa kesendirian untuk mengusir segala keramaian. Aku terbenam oleh sang waktu yang mulai bertanya, "sampai kapan kamu terus begini?". Pertanyaan yang selalu muncul dan membuatku semakin di dekap kesedihan.

Perih semakin menghujam dan kesendirian semakin menghangat. Membuatku semakin nyaman untuk terus begitu. Masokis.

Waktu mulai menggila dan liar untuk bertanya. Otak mulai menjadi musuh yang terkadang ingin aku lepas. Dan sejenak tanpa otak.

Aku benci ketika aku tidak bisa mengakhiri. Berkata tidak untuk apapun yang tidak aku suka. Aku benci ketika ada manusia lain yang menyetir pilihanku. Menyuruhku untuk sampai ke hari terang, yang aku rasa itu tidak bijak. Simbiosis macam apa? Parasitisme?

Dan hari ini, aku mencoba melepaskan dekapan kesedihan dan datang di keramaian. Awalnya sangat canggung, namun lama-kelamaan semua cair. Aku mulai merasakan peredaran darahku lancar. Ya, aku bahagia.

Namun, ...

Entah darimana asalnya, sebuah pedang muncul begitu saja dan menusuk saraf kebahagiaanku. Konslet. Aku berubah mood dengan cepat.

Tanpa basa-basi, aku pergi dari keramaian. Membiarkan semua kekacauan mengambang begitu saja.

Kali ini kesendirian datang menghampiri tanpa kesedihan. Tidak, kesendirian tidak membawaku pergi, tapi akulah yang membawa kesendirian untuk pergi bersamaku.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Jalan-jalan yuk!

H-2 UTS.

Hari ini habis jalan-jalan! Kemana? Ke Musuk!

Seru aja gitu. Lebih tertarik ke tempat begituan ketimbang nge-mall. Ngelihat yang hijau-hijau itu asik, dingin, silir, walau naiknya menantang. Iya, buatku menantang, gak tau kalau kalian.

Bukan, aku bukan pendaki. Dibolehin ndaki aja enggak, baru juga bilang, "temenku ndaki", udah langsung di jawab "gak boleh, bahaya, anak cewek". Itu aja belum ijin. Ajaib emang.

Kenapa aku prefer di tempat yang kayak jauh dari peradaban karena ya menurutku tenang dan damai. Mulai dari orangnya, suasananya, udaranya, jalanannya, pemandangannya. Mata dimanjain sama tebing, jurang, pohon, apapun yang hijau. Gak ada pabrik apalagi truk evergreen. Gak ada. Bahkan lahan pertanian aja di kemiringan tanah yang kadang cukup curam untuk manusia berdiri di situ. Terus yang menanam siapa coba? Ya manusia, apa ya alien lho ah.

Hebat. Manusia pedesaan itu hebat. Mereka gak kenal aja tetap senyum. Senyumnya tulus. Enggak di buat-buat biar manis. Ya apa adanya.

Nyenengin aja jalan-jalan melalui jalan berkelok-kelok. Walau takut sih, soalnya selain nanjak, juga nikungnya tajam, bahkan sampai gak kelihatan kalau sebenarnya masih ada jalan. Aslinya trauma sama kampas rem gegara di Tawangmangu. Jadi, mobil yang  aku tumpangi gak kuat nanjak dan mandeg di tikungan naik. Bayangin! Karena gak mungkin berhenti, alhasil harus tetap naik. Dan kamu tau apa? Ban belakang udah berasap kemepul putih. Udah bau banget kampas rem-nya. Udah hopeless banget. Kalau berhenti dan mundur yaudah. Goodbye aja. Beneran deh, sampai sekarang kalau ngehirup kampas rem langsung no comment. Kenapa? Ya simpulin sendiri.

Aslinya aku takut ketinggian. Tapi yang aku takutin, kadang yang aku suka. Yang menurutku harus di coba. Seberapa keras ketakutan, kalau gak di lawan, bahagia datang darimana?

Intinya apa sih, Rum?

Intinya, kalau mau ngajak jalan-jalan aku, mending ke tempat yang dingin gitu, atau minimal silir lah. Jauh dari peradaban, karena aku gak gaul (ini serius). Atau ke tempat yang tua-tua gitu, bersejarah. Tapi jangan museum. Hehe.

Emang dibolehin kok PD banget kayak ada yang ngajak jalan..

EH UFO YA AMPUN LEWAT TUH!! SEMBUNYI SANA BIAR GAK DI CULIK.

Senin, 25 Agustus 2014

25 Agustus 2014

Mungkin hari ini dewa malu sedang berpihak padaku. Kenapa? Ya mari kita mulai.

Di awali dari pagi hari ketika upacara. Saat sudah baris, seorang guru menarik paksa untuk baris di depan menghadap timur. Kamu tau apa? Itu hukuman.

Aku hanya diam saja dan jalan ke depan. Awalnya aku kaget dan malu. Tapi makin ke sini-sini, rasa maluku beku. Terserah.

Pada saat baris menghadap timur, aku di depan. Karena panas, yang aku rasa hanya silau. Dan aku hanya menunduk karena keringat mulai bercucuran.

Upacara berlangsung, entahlah, tapi rasanya sangat cepat. Padahal ada persembahan dan pelepasan guru.

Setelah selesai, kami (yang mendapat hukuman) di suruh mengisi surat pernyataan dan di kumpulkan besok dengan tanda tangan orang tua dan wali kelas. Yasudahlah~

Oleh-oleh dari menghadap timur adalah belang di sekitar mata. Karena aku pakai kacamata dan gak aku lepas. Ya tidak masalah, ini kenangan. Kenangan pahit sekaligus manis. Wahai guru yang menarikku, saya akan mengingatmu selalu. :*

###

Pas di kelas... Ah. Ini gak usah cerita aja deh. Memalukan. Sangat amat memalukan. Tapi bagian dari kenangan hari ini juga.

Jadi gini, Ala lagi ngerjain kimia. Dan waktu temanku bertanya, "La, ngerjain apa?", aku menjawab, "fisika pak Mardi". Nada menjawabku sungguh menthel dengan kepala menggeleng ke kiri. Pahit pahit.

Serempak, 6 meja tertawa dan mencoba mengikuti caraku berbicara. Pahit. Pahit sekali.

Ah sudahlah.

###

Sebagai bonus, ada cerita tentang "tempat duduk keramat".

Di kelasku itu duduknya disik-disikan. Jadi siapa cepat dia dapat. Pasangannya gak pernah ganti. Tempatnya aja yang ganti.

Biasanya kalau jam 6:40 itu kelas udah rame dan yang belakangan dapat belakang, pojok pula. xD

Tapi pagi ini beda. Aku sampai di sekolah kisaran 10 menit sebelum bel. Parkiran udah hampir penuh. Aku berpikir pasti dapat belakang. Dan kamu tau apa? Tempat dudukku masih kosong dan kelas udah penuh.

Aku agak berspekulasi, pasti ada yang gak berani duduk sini karena takut aku marah. Agak pekewuh juga sih. Ragu buat duduk situ. Dan akhirnya aku tanya temanku, "ini kosong?", dia menjawab singkat, "iyo". Aku bertanya lagi, "tenanan?", dia menjawab, "iyo, keramat".

Aku langsung tau arah pembicaraannya. Iya emang, semenjak aku duduk situ, aku udah 2x maju di tunjuk sama bu Hartini, di cek catatan sama guru-guru terutama bu Kamti. Yaps. Pas ada PR dan aku belum ngerjain, untuk pertama kalinya bu Kamti marah dan pergi. Ya itu asalnya di aku. Jadi bisa di simpulkan bahwa duduk situ itu harus tau materi terakhir dan siap mental bakal di tunjuk maju, apalagi bu Hartini. xD

Yah. Hari ini emang penuh cerita yang memalukan. Tapi gak masalah (sekali lagi), ini hanya bagian untuk di ingat, apalagi aku angkatan kurikulum 2006 dengan rasa 2013. ;)

Sekian.

Kamis, 31 Juli 2014

Semut merah

"Eh, ada manusia tuh."
"Mana?"
"Itu. Segede gitu masa' gak keliatan."
"Lah kan kita buta."
"Oh iya, lupa."

Begitulah percakapan semut merah yang menyebar di tong sampah. Awalnya mereka sembunyi dan hidup tentram di dalamnya. Kawanan mereka masih lengkap dan persediaan makanan sangat berlimpah.

Namun di siang yang terik, seorang manusia melangkah dan mengangkat tong sampah tersebut. Semut merah mulai siaga dan berjaga. Mereka keluar dan menyebar di seluruh permukaan jagat tong ini.

Manusia itu mulai berjalan dan berjalan. Hingga tiba di tempat biasanya untuk membuang sampah. Saat itu juga ia meletakkan tong tersebut dan mulai mencari posisi untuk membuang.

Di angkatlah tong itu, para semut mulai berlarian dan jatuh ke tanah. Satu dua semut merah itu berjalan menuju kaki manusia. Mencari posisi dan CLEKIT!

"Awww, semut nakal. Rasakan ini!"

Sang manusia menginjak-injak semut tersebut dan bersegera untuk kembali. Tapi apa daya, kaki manusia itu sudah terlanjur kena. Gatal menyeruak lalu kaki bengkak. Sungguh malang nasibnya.

Kini kakinya harus bersabar dan ikhlas menerima. Ya bagaimanapun juga, semut tidak bersalah. Itu hanya caranya untuk melindungi diri.

Minggu, 27 Juli 2014

Selasa, 08 Juli 2014

Maaf

Aku ekspresif saat keadaan tak memihak. Aku lebih suka menunjukkan, daripada mengatakan. Aku ingin kamu paham bahwa aku kecewa.

Bukan untuk apa-apa, aku hanya ingin kamu peka. Tapi apa daya, terkadang itu justru membunuh perlahan. Membunuh sebuah hubungan yang ingin aku pertahankan.

Aku menyayangimu. Marah padamu saja aku tak bisa. Justru aku marah padaku. Mengapa aku tak menghargai sabarmu.

Sabtu, 05 Juli 2014

Kamu

Bukan aku tak mau meyakinkan, tapi dalam diam aku merasa nyaman. Aku merasa ini diriku. Yang mungkin butuh ekstra penglihatan dalam menafsirkan apakah aku sudah berusaha.

Bukan aku tak mau mengatakan, tapi aku takut kamu berpikiran ganda ketika ada yang ganjil. Aku sungguh tak ingin menyakitimu. Kalau sampai itu terjadi, mungkin ada yang perlu kita bicarakan.

Bukan aku tak mau mempercayaimu, aku hanya lepas kontrol saat melihatmu dengan yang lain. Mungkin terlihat kurang dewasa. Tapi entahlah, aku belum siap melihatmu pergi.

Bukan aku tak mau menemuimu, tapi aku takut seseorang mengetahui keberadaanmu. Harusnya jika aku berani menyayangimu, aku tidak takut untuk ambil resiko. Tapi kali ini, dengan aku melakukan hal itu, justru akan menyeretmu ke dalam masalah.

Mungkin terlihat rumit. Tapi sebagai yang menjalaninya, aku bahagia. Aku menikmati rindu yang nyata, walau obatnya percakapan maya.

Aku tak masalah bila akhirnya harus menunggu lebih lama untuk waktu terbaik saat bertemu. Kalaupun hanya sebentar, setidaknya ada rindu baru yang tercipta bukan?

Komunikasi adalah nyawa hubungan. Karena ketika ada masalah dan kita bicarakan, aku bisa tau seberapa keseriusanmu untuk bertahan.

Mungkin sekian, tanggal 5 yang spesial. ;)

Minggu, 01 Juni 2014

Sedih

Kita tidak akan tahu apa yang terjadi suatu saat nanti. Kita hanya dibekali persiapan dan pengalaman. Selebihnya pasrah kepada Sang Pencipta.

Aku sungguh sedih. Berita yang aku terima beberapa bulan lalu mendadak dibahas lagi. Kau tahu bagaimana perasaanku waktu itu? Sedih. Dan sekarang tiba-tiba dibahas juga diperjelas. Kesedihan itu makin nyata. Makin terasa dan makin membuatku lemas. Hampir tidak tahu harus bagaimana lagi.

Aku benar-benar sudah pasrah. Dan entahlah, aku belum mau mengambil aksi untuk saat ini. Aku jalani saja apa yang ada.

Selasa, 27 Mei 2014

Kabar hari ini

Aku sedang duduk di meja belajar. Dan dihadapanku ada buku kimia. Saat ini aku hanya ingin mengabarkan bahwa aku tidak sedang baik-baik saja. Jika ada yang bertanya, aku tidak mau menjawab. Aku sudah tidak butuh bahu. Sudah cukup satu orang saja yang tahu.

Sedih. Aku kira awalnya aku akan baik-baik saja. Dan saat kejujuran itu berbicara, aku mulai tidak nyaman. Sungguh, aku tidak bisa tersenyum. Tidak bisa terlihat untuk santai. Tidak bisa! Aku hanya diam dan bersikap dingin seperti biasa.

Aku mendengarkan 2 lagu favorit saat sedih. Tuhan Maha Cinta-nya Nidji dan You'll be okay-nya A Great Big World. 2 lagu yang mencoba menenangkan dan menyuruh untuk menangis. Tapi sudahlah, aku tidak kuat lagi untuk menangis. Dan pada saat inilah aku melemah.

Aku bukan butuh dorongan. Bukan. Semua sudah kudapat dan klise. Benar kata seseorang, bahwa ketika memberi petuah, maka suatu saat petuah kita akan diuji pada kita. Dan menyedihkan aku harus merasakan pada saat-saat tidak tepat seperti ini. Semangatku menguap dan berkurang.

Saat ini, entahlah. Aku tidak tahu selanjutnya bagaimana. Semoga kalian paham perasaanku.

Rabu, 30 April 2014

Nostalgia

Disini siapa yang gak suka jalan-jalan? Pasti semua suka.

Jalan-jalan itu seru. Gak seru lagi kalo rame dan musti belanja. Entahlah, sebagai cewek, aku cenderung gak suka belanja. Atau mungkin lebih tepatnya belum dapat ilham untuk gila diskon.

Aku lebih suka jalan-jalan keliling kota. Dan targetku adalah keliling Indonesia. Ya gini deh, efek nonton Jalan-jalan men.

Kenapa manusia berhidung belang (efek kacamata – gak usah mikir aneh-aneh deh) suka jalan-jalan?

Menikmati kota. Aku suka bangunan. Kadang suka berimajinasi. Contohnya kota tua di Semarang. Aku suka banget, asli. Aku ngebayanginnya, dulu ini bangunan masih putih bersih, jalanannya masih bentuk tanah yang kalo hujan aromanya pasti menyeruak kemana-mana. Tiap pagi, ini jalan cuma ada lalu lalang sepeda tua dengan seorang kompeni bertopi putih, mobil warnanya hitam dan putih yang jumlahnya gak lebih banyak dari sepeda. Ada juga wanita yang pakaiannya kayak gaun mekar dan bawa payung. Jalannya anggun. Iya. Noni Belanda.

Aku suka sama kota tua di Semarang. Pas lewat disana, ada sejoli yang lagi pre-wedding. Emang, hal-hal klasik itu sering dijadiin objek buat foto. Sekarang  yang jadul-jadul malah tren. Bahkan nih ya, kalo ngebicarain soal hal-hal di tahun 90-an, gak bakal ada habisnya. Dan semua berakhir dengan rasa pengen musnahin gadget. Tapi kalo tanpa gadget, kasian LDR.

Di Boyolali juga ada sebuah supermarket yang tiap lewat itu bikin miris sendiri. Supermarket ini berdiri waktu aku masih TK. Aku inget banget, temenku itu sukanya belanja kesana. Dan waktu aku ngetik ini, aku masih bisa membayangkan dia dengan jelas. Gadis kecil berambut pendek dibawah telinga, memakai seragam TK dengan tas pink di pundaknya. Manis. Siapa namanya? Aku lupa.

Balik ke topik.

Supermarket itu bercat oren. Kalo kamu masuk, maka kamu akan disuguhkan dengan berbagai macam aneka keperluan rumah tangga. Dan kalo kamu naik ke lantai 2, peralatan sekolah dan pakaian ada disana. Siap memanjakan dirimu untuk memilih. Ya walaupun seadanya.

Sekarang, supermarketnya seperti mulai gulung tikar. Lantai 2 sudah gelap, dan lantai 1 rak-raknya mulai dimajukan. Ironis.

Ya. Begitulah. Apa yang kita jalani, semua punya masa kejayaannya sendiri. Bagaimana kamu mempertahankan, itu pilihan.

Kalo jalan keliling Boyolali, gak sedikit tempat yang berubah. Mungkin lokasinya sama, namanya sama, tapi bangunannya beda. Tapi apapun itu, tanpa perubahan, hidup gak akan ada nostalgia. Seperti saat ini.

Mengenang yang lalu-lalu memang selalu sukses membuat rindu. Seperti ingin kembali, tapi apalah, pengecut namanya jika takut perubahan. Takut untuk berkembang karena sudah nyaman dengan sekarang. Takut melangkah karena takut salah arah. Payah.

Enjoy and let's face the world. 

Senin, 28 April 2014

Untukmu

Terkadang kamu perlu berkaca diri dan bertanya, "apa aku sudah cukup baik bagi mereka?". Ya, dengan kata lain, jangan beri tuntutan tanpa tuntunan. Itu buta.

Aku hanya tak ingin suatu saat kamu kembali dan bertekuk lutut dihadapanku. Meminta maaf dan berjanji takkan mengulangi. Aku menyayangimu. Tanpa kamu mintapun, aku memaafkanmu. Tapi tidak melupakan apa yang telah lalu.

Hari ini aku kuat. Hari ini aku terima. Tapi tidak tau untuk kedepannya. Apakah aku masih disini? Atau sudah pergi.

Senin, 14 April 2014

Bukan Tentang UN

Halo. Post pertama di tahun ini mungkin bagi sebagian besar orang gak ngerti maksudnya. Hahaha. Maaf ya, otak gue emang sulit buat dimengerti. Maklum, cewek. :3

Jadi 3 hari ini libur dan gue gak ada ide buat ngapa-ngapain. Mungkin kalo gue main sendiri, gue juga bisa. Gak masalah, penting dapet ijin.

Ya, gue adalah seorang cewek berusia 17 dan dianggap dewasa menurut negara. Karena gue udah punya KTP. Bagi orang, usia 17 itu sweet. Sweet embahe kalo gue boleh bilang. Kenapa? Karena gue masih aja gak dibebasin sama orang tua buat ini itu.

Gue sedih. Ketika gue punya masalah sama orang tua (terutama Papa), gue gak tau musti ngapain dan galau banget. Lebih dari sekedar galau karena cowok. Yaiyalah, serumah. Sekarang gue payah banget, baru dilarang aja nangis. Kenapa? Karena gue gak bisa bales. Gue sebenernya marah, tapi apa ya gue mau perang adu mulut sama Papa? Gak kan?

Gue pasrah banget sekarang. Bahkan gue gak tau caranya bahagia. Di rumah adanya cuma sebel doang. Tapi keluar enggak bisa. Susah gitu. Sekarang kalo gue mau bahagia, gue melakukan hal gila. Gue nekat! Gak peduli seberapa keras ketakutan gue mengancam, gue cuma pengen ngerasain. Udah gitu aja. Dan gue berharap, orang disekitar gue mau nemenin.

Sekarang kalo gue senyum, senyum gue pahit bro! Karena gue udah gak mempan lagi disuruh sabar. Gue sadar, ada rasa kurang bersyukur dalam diri gue. Tapi yang gak gue habis pikir, dulu gue SMP gak gini-gini banget, kok SMA bisa begini tuh gimana alurnya?

Yah, hidup itu gak selalu sama. Hidup itu meningkat. Wus. Dan cara lama belum tentu bisa nyelesaiin masalah yang sama di hidup yang baru. Karena lingkungan udah beda duluan.

Dan ada hal yang patut gue syukuri. Gue punya orang-orang yang setia support gue waktu gue jatuh. Orang-orang yang gak ninggalin gue karena beda. Orang-orang di luar lingkup keluarga.

Zuvvung. Ini adalah nama grup whatsapp kelas X1. Kenapa namanya zuvvung? Karena ini grup sungguh suwung. Paling rame kalo pas libur. Soalnya pada ngajak main dan berakhir gak jadi. Udah biasa.

Jadi gue punya temen, namanya Nugroho. Penghitung kalori makanan ini adalah temen gue waktu kelas 7 dan 8. Jadi gak heran dia tau gue. Mulai dari tragedi megapro, ganyang Malaysia, dan masih banyak lagi yang gue aja lupa tapi dia inget.

Dia juga pelopor pembullyan gue dengan dibantu rekannya, Hamid. Anak TI yang hobinya njegal kaki gue tiap gue lewat, tapi sekarang berganti dengan perhatian. Iya, perhatian ngingetin pulang. #IFYOUKNOWWHATIMEAN

Juga temen semejanya Hamid, Mirza. Tiongkok yang helm-nya barusan ilang ini juga gak mau kalah tiap ngebully gue. Ya gitu deh. Huft.

Ada juga Siddiq, orang yang paling berwibawa (gak juga sih). Fansnya dia banyak, tapi ternyata dia suwung. Kalo muncul di grup pas udah sepi. Jadi si Nugroho bilang “Suwung”, tar Siddiq mengiyani, dan Nada ngeluh “laper”.

Yap, Nada. Namanya bagus ya. Orangnya absurd banget. Pernah waktu itu gue ngece-ngece dia, terus dia marah, eh yang nangis malah gue. Memalukan. Dan katanya Sukma, gue kalo nangis jelek banget.

Nah ini nih si Sukma, temen gue yang gengsinya wuuuuuuh langit ke 7 aja tembus kalik. Yang beneran aja, masa cuma karena chat di BBM berakhir di dia, dia frustasi sampe stres terus ngirim beginian ke gue:
Mbak Sukma maaf ya.
Ada nih temen gue Ala, dia partner gue di kelas 11 ini. Tanpa dia, mungkin gue udah semacam pengguna narkoba yang kerjaannya mojok di kelas. Tapi dia tanpa gue, biasa aja. Oke fine, aku rapopo.

Ala dulu duduk sama Hayin pas kelas 10. Hayin adalah temen gue yang super duper PD-nya nyundul langit. Ada gitu orang dipuji cantik terus ngejawab “wo ya genuh”. Juga kalo sebut namanya keinget pas dia cerita di Tlatar. Hahahahahahaha!!

Dan lain-lain (gak bisa dideskripsikan satu-satu).

Mereka semua kreatif. Bisa ngebuat hal serius jadi bahan candaan bahkan mau dibuat film. Kalo bukan mereka, siapa lagi sih?!
Nylekit.
Kelakuan oooouuuwwoooo
Hasmboh.
Gak muncul di grup mekso dibully-_-
Gak bakal ada habisnya ini mah.
Dan... ZUVVUNG BIKIN FILM akhirnya fixed. Semoga. Aamiin.

Dibalik ini semua, gue gak sekedar punya temen macam mereka. Ada juga temen deket (ciyelah), seseorang yang sabar banget ngadepin gue. Seseorang dimana gue bisa kehilangan otak dan melawan rasa malu gue. Entahlah, gue ngerasa beda aja. Mungkin kapan-kapan emang harus gue tulis tentang dia. Eh tapi susah, dia abstrak gitu. Mukanya aja abs...............wah ufo.

Gue tau, gak semua masalah gue semua orang kudu tau. Ada kalanya cuma gue aja yang tau. Gue gak selalu butuh sandaran buat nangis, gue punya lantai buat bersujud. Big thanks banget buat kalian yang stay sama gue sekalipun gue beda. Gue sayang kalian *titikduabintang*.

Dan buat yang nulis (gue), lo harus tetep semangat. Mungkin sekarang lo emang tertekan, tapi it’s okay. Bentar lagi lo juga udah kelas 12, jadi lo bakalan sibuk dan pikiran lo tersita buat lulus dan lolos. Apapun yang terjadi, lo kudu sabar. Lo bisa kok, cuma lo-nya aja yang lebay dan gak berani. Jangan sedih ya, Arum.

Kamis, 03 April 2014

Surat Sang Kasat

Setiap langkah untuk sedekah
Setiap aksi untuk gengsi
Dan setiap omong untuk sombong

Berlembar uang kau sebar
Berjuta dosa kau umbar
Dan tuturmu sungguh kasar

Kau kembali hanya untuk memaki
Merendahkan harga diri
Seolah kau yang paling tinggi

Injaklah, kami tak berontak
Hinalah, kami tak merana
Bengislah, kami tak gubris

Suatu saat..

Kami muak diperbudak
Kami lelah diperalat
Dan kami jemu bersandiwara

Camkan!
Jika kau menikam
Kami tak tinggal diam
Jika kau ulang lagi
Maka kami angkat kaki