Sabtu, 25 Oktober 2014

Kesendirian

Akhir-akhir ini kesedihan sedang mendekap. Membawa kesendirian untuk mengusir segala keramaian. Aku terbenam oleh sang waktu yang mulai bertanya, "sampai kapan kamu terus begini?". Pertanyaan yang selalu muncul dan membuatku semakin di dekap kesedihan.

Perih semakin menghujam dan kesendirian semakin menghangat. Membuatku semakin nyaman untuk terus begitu. Masokis.

Waktu mulai menggila dan liar untuk bertanya. Otak mulai menjadi musuh yang terkadang ingin aku lepas. Dan sejenak tanpa otak.

Aku benci ketika aku tidak bisa mengakhiri. Berkata tidak untuk apapun yang tidak aku suka. Aku benci ketika ada manusia lain yang menyetir pilihanku. Menyuruhku untuk sampai ke hari terang, yang aku rasa itu tidak bijak. Simbiosis macam apa? Parasitisme?

Dan hari ini, aku mencoba melepaskan dekapan kesedihan dan datang di keramaian. Awalnya sangat canggung, namun lama-kelamaan semua cair. Aku mulai merasakan peredaran darahku lancar. Ya, aku bahagia.

Namun, ...

Entah darimana asalnya, sebuah pedang muncul begitu saja dan menusuk saraf kebahagiaanku. Konslet. Aku berubah mood dengan cepat.

Tanpa basa-basi, aku pergi dari keramaian. Membiarkan semua kekacauan mengambang begitu saja.

Kali ini kesendirian datang menghampiri tanpa kesedihan. Tidak, kesendirian tidak membawaku pergi, tapi akulah yang membawa kesendirian untuk pergi bersamaku.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Jalan-jalan yuk!

H-2 UTS.

Hari ini habis jalan-jalan! Kemana? Ke Musuk!

Seru aja gitu. Lebih tertarik ke tempat begituan ketimbang nge-mall. Ngelihat yang hijau-hijau itu asik, dingin, silir, walau naiknya menantang. Iya, buatku menantang, gak tau kalau kalian.

Bukan, aku bukan pendaki. Dibolehin ndaki aja enggak, baru juga bilang, "temenku ndaki", udah langsung di jawab "gak boleh, bahaya, anak cewek". Itu aja belum ijin. Ajaib emang.

Kenapa aku prefer di tempat yang kayak jauh dari peradaban karena ya menurutku tenang dan damai. Mulai dari orangnya, suasananya, udaranya, jalanannya, pemandangannya. Mata dimanjain sama tebing, jurang, pohon, apapun yang hijau. Gak ada pabrik apalagi truk evergreen. Gak ada. Bahkan lahan pertanian aja di kemiringan tanah yang kadang cukup curam untuk manusia berdiri di situ. Terus yang menanam siapa coba? Ya manusia, apa ya alien lho ah.

Hebat. Manusia pedesaan itu hebat. Mereka gak kenal aja tetap senyum. Senyumnya tulus. Enggak di buat-buat biar manis. Ya apa adanya.

Nyenengin aja jalan-jalan melalui jalan berkelok-kelok. Walau takut sih, soalnya selain nanjak, juga nikungnya tajam, bahkan sampai gak kelihatan kalau sebenarnya masih ada jalan. Aslinya trauma sama kampas rem gegara di Tawangmangu. Jadi, mobil yang  aku tumpangi gak kuat nanjak dan mandeg di tikungan naik. Bayangin! Karena gak mungkin berhenti, alhasil harus tetap naik. Dan kamu tau apa? Ban belakang udah berasap kemepul putih. Udah bau banget kampas rem-nya. Udah hopeless banget. Kalau berhenti dan mundur yaudah. Goodbye aja. Beneran deh, sampai sekarang kalau ngehirup kampas rem langsung no comment. Kenapa? Ya simpulin sendiri.

Aslinya aku takut ketinggian. Tapi yang aku takutin, kadang yang aku suka. Yang menurutku harus di coba. Seberapa keras ketakutan, kalau gak di lawan, bahagia datang darimana?

Intinya apa sih, Rum?

Intinya, kalau mau ngajak jalan-jalan aku, mending ke tempat yang dingin gitu, atau minimal silir lah. Jauh dari peradaban, karena aku gak gaul (ini serius). Atau ke tempat yang tua-tua gitu, bersejarah. Tapi jangan museum. Hehe.

Emang dibolehin kok PD banget kayak ada yang ngajak jalan..

EH UFO YA AMPUN LEWAT TUH!! SEMBUNYI SANA BIAR GAK DI CULIK.