Selasa, 31 Mei 2016

Raja [1]

Alkisah, pada tahun 2930 hiduplah seorang Raja. Ia mudah sekali bosan. Bahkan memimpin dirinya sendiripun ia bosan.

Raja itu tidak jahat. Hanya seorang yang mudah bosan pada apa yang ia lakukan.

Pada suatu hari, ia ingin berpetualang. Ia berpikir, "dengan siapa aku akan berpetualang". Ia tidak memiliki permaisuri. Dan akhirnya, ia mengadakan sayembara.

Sayembara diadakan secara cepat, karena ia tidak suka menunggu.

Seleksi dimulai. Pendaftar berjumlah 5 orang. Satu laki-laki dan empat perempuan.

Masing-masing ditanyai. Pertanyaan sederhana, "apakah kau mau berpetualangan denganku?".

Laki-laki itu menjawab, "apa aku pembantumu?".

Perempuan pertama menjawab, "kemana?".

Perempuan kedua menjawab, "serius?".

Perempuan ketiga menjawab, "hanya berdua?".

Dan perempuan keempat menjawab, "yuk, sekarang?".

Raja berpikir, hanya perempuan keempat yang sesuai ekspektasinya. Ia berjalan mendekat dan berkata, "iya, bersiap-siaplah".

Perempuan keempat tertegun. Hampir tidak percaya. Tadinya iya hanya sekedar menjawab. Tapi ternyata lebih dari itu. Yaitu sekarang!

Lalu tunggu apalagi?

Raja dan perempuan itu bersiap. Apa yang akan terjadi? Apakah akan menjadi petualangan yang menyenangkan? Atau tetap membosankan?

Kepakai juga akhirnya

Lagi mikir-mikir. Tentang organisasi.

Aku masuk di organisasi. Sebelumnya aku bukan siapa-siapa. Di sekolah gak ikut apa-apa. Sama sekali. Hidupku selow.

Tapi sekarang aku ikut organisasi. Tujuanku kuliah juga emang itu. Aku pengen melatih caraku berkomunikasi dengan orang lain. Karena aku merasa payah aja. Aku gak bisa menyampaikan dengan baik.

Allah itu tau apa yang kita butuhkan, dan Dia memberikannya. Terlepas dari apa yang kita inginkan.

Aku masuk di Bidang IV (Pengembangan Organisasi). Fixed ya! Ini bidang yang pas buat aku untuk melatih cara berkomunikasi. Gimana enggak? Aku berhubungan dengan dunia luar yang selanjutnya untuk ke dalam.

Alumni iya.
Sponsor iya.
Lembaga lain iya.

Banyak deh. Sangat banyak.

Awalnya aku gak pengen di sini, karena merasa gak pantas. Tapi ternyata diterimanya di sini. Yaudah. Pas berarti. Pas sama tujuanku berorganisasi.

Dan kepakai.
Di luar dari urusan organisasi.
Ketika aku berhadapan dengan orang lain yang sama sekali gak aku kenal.
Dan dia meledak.
Lalu aku menambahkan api.
Boom!

Ya begitu. Berkomunikasi. Berani bicara. Tidak ada yang salah dengan pendapat, tapi pemahaman sebelum berpendapat harus tepat.

Sabtu, 28 Mei 2016

Bukan urusanku

Aku ngajak ketemu. Dia mau. Tapi gak bisa kalo gak di sini. Padahal aku harus pulang, karena ada urusan. Dan memang sudah ditanyain berkali-kali.

Aku sudah lupa kapan terakhir ketemu dia. Aku lupa kapannya. Aku cuma ingat pas itu rapat.

Aku ingin sekali ketemu. Tapi sulit.

Aku harus gimana?

Pun sejujurnya, aku merasa bahwa dia udah bukan dia. Tapi yaudah, hal yang pasti adalah perubahan itu sendiri.

Dari yang sering bertemu
Sampai tanya kabar aja ragu
Apakah aku mengganggu
Apakah dia terganggu

Tapi
Ya sudah lah
Dia sudah bahagia
Atau sedang dibahagiakan

Oleh siapa?
Dirinya sendiri?
Atau?

Sudahlah. Itu bukan urusanku.

Jumat, 27 Mei 2016

Cemas

Aku tidak tahan, aku ingin bertanya. Bertanya kabar, apa itu salah?

Aku tidak tau, kenapa aku cemas memikirkanmu. Aku selalu mau kabarmu.

Apakah sudah makan?

Apakah sibuk?

Apakah sehat?

Ah.

Aku ingin tau. Maafkan aku mengganggumu. Tapi, kenapa aku cemas begini?

Senin, 23 Mei 2016

Kusut

Dikata sedih, gak juga.
Dikata senang, apalagi.

Datar.

Bahkan aku juga lebih banyak sendiri hari ini. Gak tau kenapa. Sampai ada yang bilang:

Sendirian
Diem

Aku kira gak ada yang merhatiin. Ternyata. Ada. Gitu lagi.

Oh iya.

Aku bingung kenapa semakin hari semakin sulit dijelaskan. Semakin rumit aja masalahnya.

Dan...

Terparah adalah...

Aku melihat baik-baik saja. Tapi ternyata itu tipuan mata. Jika bisa dirasa, kenyataannya buruk. Rusak. 

Pagi lagi

Dah malem ya. Pegel.

Mau cerita tentang hari ini. Bukan kemarin.

Setengah 7 pagi. Aku masih tidur-tiduran. Tiba-tiba batuk karena tidur di kamar mbakku. Adem gilak. Gak kuat. Tapi dah sembuh lah. Cuma karena dingin doang.

Jam 7-an aku melajukan motorku ke Solo. Yoi. Ada acara studi banding. Jam 11 sih dimulainya, tapi karena bidangku yang punya proker, jadi semacam panitia dari bidangku.

7:26

Mas-masnya bilang otw.

8:40

Mas-nya bilang sampai Klaten.

9:__ (lupa)

Kaget. Akunya yang kaget. Cepet banget alig. Aku langsung kasih kabar ke grup pengurus. Minta jangan telat.

Ya gitu...

Ketika pengurus jam 11 udah pada dateng, dari pihak sana mengundur karena bisnya mogok. Yaudah deh. Harus menunggu dan baru dimulai jam setengah 3 sore.

Pekewuh sama pengurus. Tapi ya gapapa, semoga tetap senang.

Aku mau cerita apa sih tadi intinya. Lupa kan.

Yaudah deh.

Tidur tidur.

Sudah pagi lagi.

Dan sepagi ini, aku mau bilang, bukan, aku mau berharap. Semoga aku bisa sabar dan ikhlas. Sabar menunggu dan ikhlas melepas.

Sabtu, 21 Mei 2016

Jawaban

Emily tu emg amel. Tapi aku ga ngtweet ttg dia. Aku cuma suka namanya.

Tapi bukan buat dia

Aku cuma keinget dia

Eh

Sama aja ya

Aku cuma suka namanya

Sudut 30°

Tidak tersampaikan
Atau belum

Bersembunyi
Jauh sekali
Seperti bukan bersembunyi
Tapi disembunyikan

Ditahan
Untuk tidak berkembang
Dihilangkan
Tapi tak bisa

Jadi maunya apa?
Dilupakan?
Disesalkan?
Atau dilanjutkan?

1 menit

4:32.

Alarmku berbunyi jam 4:30, aku matikan. Tapi aku masih sedikit mengantuk. Jadi, rasa enggan untuk bangun pun banyak.

Aku membuka HP-ku. Semalam paket datanya tidak aku matikan.

Dan..

Emily.

Kaget. Aku memastikan sampai aku baca berkali-kali.

12:02.

Pagi tadi kan?

Aku baca berkali-kali. Dan yang ada dipikiranku... bukankah itu dia?

Rasanya...

Sekitar 1 menit aku membaca itu, aku diam sejenak.

Aku yang sedari tadi enggan beranjak dari kasur, akhirnya segera.

Entah.

Seperti terburu.

Tapi ada untungnya kamu bilang seperti itu. Aku jadi tidak perlu lama-lama mager. Cukup 1 menit, dan itu membuatku terbangun.

Jumat, 20 Mei 2016

Hujan dan satu dua tiga empat

Hari ini harusnya nemuin juri. Tapi malah ke Hydrococo buat pembayaran.

Kisaran jam setengah 4 sore lebih. Langitnya gelap. Mendung. Hujan. Gerimis.

Aku bergegas ke sekre dan pergi. Agak jauh tempatnya. Setengah perjalanan ke rumahku. Aku sama mas Fafa. Kita berdua ke Hydrococo.

Gak boncengan kok. Motor sendiri-sendiri.

Saat itu udah gerimis. Tapi gak begitu deras. Biasa aja. Rintik pelan.

Kata mas Fafa, "tar aja pake mantolnya, kalo deres".

Sampai di daerah jembatan yang atasnya rel kereta itu, mulai deres. Dan parahnya aku kehilangan mas Fafa. I mean, dia di belakangku tapi gak keliatan. Kejebak lampu merah kayaknya.

Pas udah ketemu, dia bilang "ngiyup sik, nganggo mantol".

Di deket terminal, kita turun dan pake mantol.

Bressss.....

Deres banget. Banjir juga.

Tapi tetep nekat.

.....
.....
.....

Ah udah. Jadi gak mau cerita deh.

Jadi mikir lagi. Banyak mikir banget.

Padahal aslinya ceritaku seru. Gimana aku ngelewati banjir dan gimana aku harus muter-muter karena kecegat banjir.

Dan aku sendirian.

Tapi, tiba-tiba gak mau cerita.

Nanti jadi gak seru.

Karena aku tiba-tiba kepikiran. Sangat mengganggu konsentrasi cerita. Ah bukan. Feel-nya gak dapet.

Kamis, 19 Mei 2016

Lupa

Dulu aku bukan orang yang suka tidur larut malam. Jam 10 aja biasanya udah tidur. Sekarang justru aneh rasanya kalau tidur dibawah jam 10.

Ah..

Aku gak tau kenapa tiba-tiba sedih. Ekspresi wajahku begitu datar.

Apa gara-gara.....?

Semoga tidak.

Tapi apa.......

Kenapa sangat mengganggu pikiran. Toh aku sendiri bingung sedang mikir apa.

Yah. Semoga besok aku biasa aja. Gak sedih. Atau setidaknya lupa kalau lagi sedih.

C.2.18

Hari ini, iya hari ini.

Ada cerita. Cerita ruwet sampai kesel sendiri.

Kemarin, aku buat surat perijinan ruang di gedung C. Ruang itu ruang sidang. Pas udah aku print, udah aku mintain tanda tangan kabid, ternyata salah. Harusnya C.2.18. Yaudah mau gak mau ganti.

Perijinannya itu beda. Kalau ruang sidang ijinnya sampai mawa fakultas. Kalau C.2.18 itu ke prodi Biologi.

Sorenya apa siangnya gitu aku ngetik ulang. Sebelum aku print, aku tanya dulu ke sekum tentang kolom tanda tangan, yth, sama alur perijinannya. Kata sekum, yth ke umkap, kolom tanda tangan sampai kaprodi Matematika, dan acc kaprodi Biologi. Tapi karena gak yakin, aku disuruh tanya admin Biologi.

Kalau kata adminnya, yth ke kaprodi Biologi. Ya udah, aku membuat surat akhirnya berdasarkan apa kata adminnya.

Sorenya tanda tangannya udah sampai kabid. Aku mikir, pokoknya besok udah harus selesai. Kalau nunggu Jumat, kelamaan. Apalagi Jumat itu hari pendek.

Besoknya...

Jam ke 3, aku nanya ketum lagi dimana. Mau minta tanda tangan. Katanya dia lagi kuliah. Yaudah nunggu jam ke 5. Pas jam ke 5, ketum dateng ke sekre. Langsung deh minta tanda tangan.

Habis itu aku ngajak Iped buat ke lantai 2, minta tanda tangan kaprodi Matematika. Langsung ditanda tangani sambil beliau bilang, "dijaga kebersihannya, kalau tatanannya kamu ubah, pas udah selesai dibalikin lagi".

Setelahnya kaprodi nyamperin admin Matematika tanya-tanya soal perijinan ruang ke Biologi.

Dan...

Salah. Kata admin Matematika, yth-nya itu ke umkap dan tembusan ke kaprodi Biologi. Terus, aku disuruh mengulang. Dengan alasan, hari Minggu itu gedung C gak dibuka. Yang punya kunci gedung C itu umkap. Pun kalau C.2.18 di acc, yang mau buka gedungnya siapa.

Yaudah. Dengan sedikit rasa gimana gitu, aku ke sekre dan bikin surat yth-nya ke umkap. Aku ngulang lagi dan lagi.

Sebelum ke sekre, aku tanya umkap. Yth-nya ke siapa, dan dijawab ke umkap tapi ada acc dari kaprodi Biologi.

Aku ngulang tanda tangan dari awal.

Kira-kira habis dzuhur itu tanda tangannya udah semua (sampai kaprodi Matematika). Kau tau? Aku bawa 2 kertas. Yang 1 yth ke kaprodi, yang 1 yth ke umkap.

Aku ke gedung C ngajak Risma. Ruang adminnya ditutup. Ruang kaprodi Biologi-nya banyak orang. Dan terlebih aku gak tau kaprodinya yang mana. Aku duduk berdua sama Risma. Kita ngobrol. Terus aku tanya mbak-mbak disitu.

"Mbak, dari prodi Biologi?"
"Iya"
"Kaprodinya yang mana ya?"
"Yang itu, pakai baju hijau rambutnya pendek"

Aku berdiri dan menuju ruang admin buat tanya. Aku nanyain yth-nya gimana.

Kata adminnya, "yaudah manut sama umkap aja". Terus adminnya nganter ke prodi Biologi. Padahal cuma sebelahan sih, tapi gak berani masuk karena rame.

Aku masuk sama Risma. Aku bilang ke kaprodinya mau ijin tempat. Terus kaprodinya bingung kok yth-nya umkap tapi gak ada acc dari umkap. Atau gimana ya, intinya gak ada tanda tangan wakil dekannya.

Ya disitu aku bingung. Terlebih kaprodinya bilang, "kalau yth-nya memang umkap, ini diulang, harus ada tanda tangan wakil dekannya. Kalau yth-nya kaprodi Biologi, itu baru bener minta acc ke saya".

Nah, bingung gak tuh?!

Rasanya...... ampun deh.

Karena udah dapet acc. Aku berasa gak mau ngulang lagi.

Aku ke umkap lagi dan nanyain.

Pas dateng, ada bapak-bapak disitu dan bilang, "lagi istirahat mbak". Aku jawab, "cuma mau tanya pak".

Dan bapaknya jawab, "mau tanya apa?".

Aku mendekat sambil siap-siap curhat.

Kata beliau, "yth-nya kaprodi Biologi, terus ini dimintakan acc dulu".

"Lah, ini udah acc kaprodinya"
"Iya, tapi acc admin Biologinya belum ada"
"..."
"Itu ke mbak Asri atau mas Agus"

Jujur aja, disitu aku bingung. Aku pengen nangis yakin. Aku bolak-balik dari sana ke sini. Yang bikin capek itu sana bilang apa, sini bilang apa, dan terlebih acc-nya berasa kemana-mana.

Dengan menahan tangis, aku ke admin Biologi. Aku gak mau nangis duluan, aku maunya selesai. Begitu pikirku. Dan setelahnya, aku gak mau lagi. Mutung ceritanya.

Aku ke adminnya dan minta acc. Langsung di acc. Alhamdulillah.

Aku balik ke umkap dan menunjukkan bentuk suratnya.

Udah betul.

Udah selesai.

Aku fotokopi dan ngasih cap ke suratnya.

Setelah selesai cap-cap-an, aku ngasih surat ke umkap buat dicatat kalau C.2.18 mau dipinjam, ke satpam biar dibukain gedungnya, dan ke admin Biologi buat jadi bukti kalau aku udah ijin ruangannya.

Selesai!

Pertanyaan malam ini: kunci ruangannya ke siapa ya? Lupa nanya. Hmm.

Mungkin aku tadi emosional. Sampai bilang, "gak mau ijin ke sana lagi, mending ruang sidang sekalian ketimbang harus ruang kuliah".

Atau gampangnya, kalau mau pinjam ruangan itu, jangan nyuruh aku.

Sekian ceritaku, tentang perijinan ruang kuliah Biologi.

Hal yang bisa aku syukuri, aku masuk ke ruang prodi Biologi. Ketemu sama kaprodinya. Kapan lagi bisa begitu? Biasanya cuma lewat aja.

Sekalipun kesal, pasti tetap ada hal yang bisa disyukuri kan?

Minggu, 15 Mei 2016

Lampu

Lampunya mati. Bingung banget harus gimana. Mau service, tapi bakal banyak banget yang di service. Mulai dari service keseluruhan, rem, lampu, ganti oli.... yaampun.

Pulang ini tadi aja pake lampu kota. Redup tapi nyala. Aku gak mikirin akunya kenapa-kenapa, tapi takutnya orang lain gak lihat aku dan jadinya begitulah.

Hmm.

Ngantuk. Habis selesai MFC dan aksioma. Aksioma belum selesai sih, masih tinggal dikit. Eh tapi kok ada yang aneh ya. Ada yang.......

Kemarin habis pulang dari MFC hari pertama, sampai kos langsung nyuci dan mandi, terus balik ke sekre. Ngapain? Ya aksioma. Capek sih. Rada' gak mood juga karena............

Sampai sekre langsung ngerjain dan alhamduliah dapet kisaran 50-60 persen selesai.

Itu sampai jam 9 malem, aslinya pengen dilanjut aja, tapi gimana ya, udah disuruh pulang.

Yaaa, beginilah. Sedang gak bisa diganggu. Kepikiran diri sendiri.

Sabtu, 14 Mei 2016

Jumat, 13 Mei 2016

23:15

Ada apa dengannya?

Salah.

Ada apa denganku.

Malam ini dua kali nulis blog. 23:08. Sudah malam. Besok harus berangkat pagi. Sebelumnya aku bilang bahwa baru makan sekali kan? Dan ya, malam ini tidak makan. Tapi besok pagi harus. Aku tidak mau sakit karena ulahku sendiri.

Kamu memenuhi pikiranku.

Ah. Apakah kamu baik-baik saja?

Tidak! Ini cukup. Sangat cukup.

Pun kalau aku menjauh, bukan karena aku mau. Tapi kamu yang melakukannya.

Boleh jadi kamu melihatku baik-baik saja. Tapi sebenarnya tidak.

I'm done.

Depanku tertidur

Suara hujan merajai seisi ruangan
Decit gesekan sepatu dengan lantai tidak terdengar
Orang teriak
Tapi tidak terdengar

Di sana ramai
Di sini juga

Sekitarku bingung
Sekitarku lelah
Pasti
Tapi semangat ya
Aku rehat sebentar

Aku duduk tanpa sandaran
Hanya menekuk siku
Dan diletakkan di atas meja

Aku
Yang saat ini sedang lapar
Hanya makan sekali
Dan mengantuk

Sedang berpikir
Banyak sekali
Seolah pikiranku sangat sibuk
Mengalahkan kegiatanku sendiri

Ah
Aku lupa
Seharusnya aku mengabari
Tapi dia sedang sibuk

Hujan mulai kalem
Tidak berisik
Ada yang menyanyi
Tapi di TV

Mereka teriak
Mereka berlari
Sedang aku
Hanya diam
Dan terduduk

Hari ini
Aku ingin sekali bicara padamu
Seperti biasanya

Tapi saat ini tidak biasa
Ada yang berubah
Ada yang menjauh
Dan ah
Aku tak tau lagi

Kamis, 12 Mei 2016

Gak bisa fokus

Besok ada ujian kalkulus dan belum belajar. Cuma baca-baca.

Yakalik kalkulus cuma dibaca doang.

Lelah hari ini. Yang lelah pikirannya. Mungkin aku terlalu pesimis. Sampai-sampai aku lupa, kalo masih banyak yang berharap. Sedangkan aku? Ya begini.

Yaudah sih gitu aja. Gak penting emang.

Mengantuk. Tidur dulu mungkin. Belajarnya besok aja. Biar fokus.

Sudah pagi

23:50

Sudah malam bahkan tengah malam. Ini kalau aku kelamaan mikir apa yang mau aku tulis, bisa-bisa waktu aku post jadi pagi hari. Yaaa yaudah sih ya.

Habis selesai ngerjain tugas kalkulus. Pegel. Lebih dikit padahal dari aljabar linear. 2 hari ini emang kebut-kebutan tugas. Lembaran-lembaran folio dimana-mana. Parahnya, hari Jumat UKD III kalkulus.

Kamis yang aku kira gak ada apa-apa, ternyata justru harus kemana-mana.

Aku emang masuk di bidang yang kerjaannya jalan-jalan. Di kepanitiaan pun aku jalan-jalan.

Mengesankan.

Kamis nanti ada asistensi, terus mengurus sponsor, dan kumpul acara lopograf. Malamnya musti belajar untuk ujian besoknya. Padahal hari ini saja aku capek. Tapi menyenangkan.

Tadi habis dari FISIP. Mau ketemu sama mas-mas FFC. Selesai kuliah, mampir sekre bentar nunggu orang, karena aku gak tenang, pekewuh kalo masnya nunggu, jadinya aku ngeburu.

Ke FISIP. Bingung mau parkir. Pas mau parkir dikasih kertas warna oranye, kayak kertas parkir gitu.

Terus kita (aku sama Iped) bingung sekre FFC dimana. Cuma dikasih tau deket sama lapangan FEB. Lah? Kan gak ngerti ya. Aku gak pernah ke FISIP. Akhirnya nanya orang, dikasih tau.

Kita masuk. Settt....

Pas masuk kaget, beda banget sama FMIPA. Hahaha. Mahasiswanya.... lokasinya..... suasananya..... beda deh.

Sampailah di sekrenya. Ada kejadian nih. Jadi kita tuh bingung mau masuk. Mau masuk tapi kok malu, dan boom! Kita tarik ulur disitu. Eh si masnya tuh dubbing -in kita. Kayak "ih kamu dulu", "gak mau, kamu dulu". Kan ngeselin ya. Dikata kita gak denger kalik.

Masuklah kita. Duduk. Lalu mengobrol. Seru. Mas-masnya lucu dan baik. Angkatan 2014. Salah satunya temennya mas Obi. Kita dapet banyak masukan dan itu menyenangkan.

Setelah itu kita pergi. Kita ke FAPERTA.

Blablablabla.....

Capek mau cerita hahahaha. Udah pagi.

Dan pagi-pagi harus kepikiran sesuatu. Sesuatu yang sebenernya aku mencoba lupa. Bukan mencoba lupa, mencoba memaklumi.

Aku gak tau sebenernya. Kenapa dan bagaimana bisa terjadi. Gak tau.

Semua kayak terjadi begitu aja, dan aku gak bisa menghindar. Atau aku yang gak mau nolak. Yaah, aku gak tau. Jangan ditanya.

Tapi...

Bagaimana ya rasanya? Kenapa aku penasaran? Hahahaha. Yasudahlah. Sudah pagi.

Minggu, 08 Mei 2016

Pindah

Namaku Arum. Sebelum lahir-pun aku sudah jadi masalah. Apalagi sekarang. Semakin ruwet saja.

Aku disebut berdarah dingin. Kadang aku berpikir, bukankah semua manusia berdarah panas? Lantas makhluk macam apa diriku ini?

Tidak. Itu hanya sebutan oleh sebab kelakuanku. Suka datang tiba-tiba jika masuk rumah. Dan banyak hal lagi, hanya orang rumah yang tau.

Aku anak kedua dari empat bersaudara. Kakakku perempuan, adikku laki-laki (Alm.) dan perempuan. Aku menyayangi mereka sebagaimana suatu keharusan. Kalau tidak, bisa di depak aku dari rumah.

Ayahku, ah tidak, Papaku, beliau asli Jogja. Mamaku asli Semarang. Jogja dan Semarang lalu tinggal di Boyolali. Seperti tengah-tengahnya. Aku lahir Jogja tapi akta Boyolali. Sebenarnya aku tidak setuju, kalau aku dari bayi sudah bisa protes, pasti aku protes. Tapi ya mau gimana, bisanya cuma nangis, dasar bayi.

Papaku seorang yang keras.

Ambigu. Keras apanya?

Semuanya. Didikannya sangat keras. Berbeda dengan Mama yang cenderung lemah lembut.

Tapi aku tidak mau membahas itu.

Aku tinggal di Boyolali, tapi sudah berkali-kali pindah. Pertama, di Jl. Merbabu. Ada sumurnya, aku masih ingat. Belakang rumah seperti hutan. Yang aku ingat hanya sedikit. Memori masa kecil. Seperti, coretan yang aku buat di tembok rumah. Lalu bersembunyi di bawah meja waktu ada orang gila lewat.

Lah? Ingatan macam apa ini? 

Terkalem 2001 (atau 2002)
Ke-ma-yu
Lanjut...

Setelah dari Jl. Merbabu, kita pindah ke Pambraman (Banaran). Dulu aku susah nyebutnya, selalu kebalik-balik sama Candi Prambanan. Ah begitu pokoknya.

Aku TK di daerah sini. Kira-kira 100 meter dari rumah. Aku punya teman pulang bareng. Namanya Fian, dia laki-laki.

Pulang-bareng-zoned.

Yang aku ingat, gempa 2006 (ya bukan ya?) itu waktu aku di sini. Aku mau mandi, aku naik kursi buat ambil baju, dan tiba-tiba bergoyang, dan boom... terjadilah gempa. Dan di situlah pertama kalinya aku merasakan gempa.

Sebenarnya banyak cerita, ingin aku tuliskan, tapi sepertinya tidak perlu.

Selanjutnya, aku pindah ke Surowedanan (Pulisen). Ah. Itu adalah rumah favoritku. Benar-benar favorit. Kamarku memang lebih kecil daripada kamar di Pambraman. Tapi sangat nyaman. Terutama karena ada jendelanya. Yap, aku sangat menyukai jendela.

Rumahnya besar dan luas. Ada rumah cabang. Eh bukan, rumah pemiliknya di dalam. Rumah kecil. Aku sering ke situ hanya untuk lihat-lihat barangnya. Ada banyak buku cerita. Dan yang paling aku suka adalah puzzle. Banyak puzzle dan sudah aku selesaikan. HA!

Rumahku dekat dengan SMP-ku. Kadang jalan kaki, kadang naik angkot, tapi kalo naik angkot suka muter-muter dulu, biar serasa rumahnya jauh.

Selain itu apa ya, yaa intinya aku rindu sekali dengan rumah itu. Sederhana. Bangunan tua. Jendela. Tetangga yang ramah. Teman yang sepantaran. Sangat menyenangkan.

And the last one...

Jl. Perintis Kemerdekaan (Pulisen). Kalo ditanya, aku selalu menyebutnya dengan Boyolali kota. Padahal Boyolali bukan kota. Boyolali itu Kabupaten, tidak ada Walikota, adanya Bupati.

Dan satu lagi, kota mana yang dilewati bis dan truk? Hahaha. "Kota" yang sebenarnya itu Banaran. Pulisen itu apa ya, luas lah. Tapi termasuk kota juga menurutku. 5 menit dari Pasar Boyolali. 

Aku menghabiskan masa SMA-ku di sini. Dekat dari rumah lagi. Yap. Aku merasa setiap kepindahanku selalu dekat dengan jarak sekolahku.

SD-ku di Jl. Garuda, dekat dengan rumahku yang di Banaran. SMP-ku di Jl. Merapi, dekat dengan Surowedanan. Dan SMA-ku di Jl. Kates, dekat dengan Jl. Perintis Kemerdekaan.

Kalo ada tugas menggambar jarak rumah ke sekolah, aku tidak akan pernah kesulitan.

Semuanya hanya tinggal lurus.

Kamu tidak akan pernah tersesat mencari rumahku. Banyak plang (penunjuk arah). Yap, Papa itu dokter gigi, jadi ya harus begini.

Akhir kata...

Aku sering pindah rumah, tapi semua tetap menyenangkan. Apapun itu, akan selalu menyenangkan jika disyukuri kan?

Sabtu, 07 Mei 2016

Barusan apa?

Apa kabar?
Senang bertemu denganmu

18:31

Ah. Apa yang aku lakukan barusan? Setelah melakukannya malah bingung. Sebenarnya, aku tidak tau apa yang aku lakukan ini benar atau salah. 

Mencoba? Iya kah? Tanpa persiapan sedikitpun?

Aduh.

Jadi bingung.

Sangat bingung.

Banyak ketawa kayaknya

Secret love song

Baru tau judulnya ternyata ini. Hahaha.

Sedang di Boyolali. Seharusnya sekarang ini lagi di Solo. Ngapain gitu. Tapi ternyata gak bisa. Setelah dipertimbangkan, lebih baik di rumah.

Kemarin aku ke Jogja. Panas. Dan macet. Gak jauh beda sama Solo. Tapi panasnya Solo tetep juara lah.

Lewat banyak tempat. Menyusuri banyak jalan. Melihat banyak hal. Lalu sendirinya tersadar. Bahwa aku belum bisa melepas. Masih berharap. Entah sampai kapan.

Hahaha. Tapi hidup tetaplah hidup. Begitulah.

Kiranya aku harus ikhlas.

Pfft.

Perkiraan bisa meleset.

Jangan mudah ikhlas, kalau memang masih berharap, ya diperjuangin lah. Belum 7 kali, baru 3 kali. Hahahaha.

Minggu, 01 Mei 2016

Sralodah

Aku lelah.

Aku memang salah, udah ngajak tapi aku sendiri yang gak jadi. Tapi gak gitu juga, setelah beberapa percakapan dan seorang itu bilang "mager", aku yang disalahin.

Kesal.

Jadi males.

Kenapa tidak fokus aja sama yang mau? Daripada harus dibatalkan hanya karena satu atau dua orang? Ah. Gitu lah. Aku kesal karena disalahkan sampai sebegitunya. Sedangkan itu... ah. Males.

Malam ini males. Males mau ngapa-ngapain.