Disini siapa yang gak suka jalan-jalan? Pasti semua suka.
Jalan-jalan itu seru. Gak seru lagi kalo rame dan musti belanja. Entahlah, sebagai cewek, aku cenderung gak suka belanja. Atau mungkin lebih tepatnya belum dapat ilham untuk gila diskon.
Aku lebih suka jalan-jalan keliling kota. Dan targetku adalah keliling Indonesia. Ya gini deh, efek nonton Jalan-jalan men.
Kenapa manusia berhidung belang (efek kacamata – gak usah mikir aneh-aneh deh) suka jalan-jalan?
Menikmati kota. Aku suka bangunan. Kadang suka berimajinasi. Contohnya kota tua di Semarang. Aku suka banget, asli. Aku ngebayanginnya, dulu ini bangunan masih putih bersih, jalanannya masih bentuk tanah yang kalo hujan aromanya pasti menyeruak kemana-mana. Tiap pagi, ini jalan cuma ada lalu lalang sepeda tua dengan seorang kompeni bertopi putih, mobil warnanya hitam dan putih yang jumlahnya gak lebih banyak dari sepeda. Ada juga wanita yang pakaiannya kayak gaun mekar dan bawa payung. Jalannya anggun. Iya. Noni Belanda.
Aku suka sama kota tua di Semarang. Pas lewat disana, ada sejoli yang lagi pre-wedding. Emang, hal-hal klasik itu sering dijadiin objek buat foto. Sekarang yang jadul-jadul malah tren. Bahkan nih ya, kalo ngebicarain soal hal-hal di tahun 90-an, gak bakal ada habisnya. Dan semua berakhir dengan rasa pengen musnahin gadget. Tapi kalo tanpa gadget, kasian LDR.
Di Boyolali juga ada sebuah supermarket yang tiap lewat itu bikin miris sendiri. Supermarket ini berdiri waktu aku masih TK. Aku inget banget, temenku itu sukanya belanja kesana. Dan waktu aku ngetik ini, aku masih bisa membayangkan dia dengan jelas. Gadis kecil berambut pendek dibawah telinga, memakai seragam TK dengan tas pink di pundaknya. Manis. Siapa namanya? Aku lupa.
Balik ke topik.
Supermarket itu bercat oren. Kalo kamu masuk, maka kamu akan disuguhkan dengan berbagai macam aneka keperluan rumah tangga. Dan kalo kamu naik ke lantai 2, peralatan sekolah dan pakaian ada disana. Siap memanjakan dirimu untuk memilih. Ya walaupun seadanya.
Sekarang, supermarketnya seperti mulai gulung tikar. Lantai 2 sudah gelap, dan lantai 1 rak-raknya mulai dimajukan. Ironis.
Ya. Begitulah. Apa yang kita jalani, semua punya masa kejayaannya sendiri. Bagaimana kamu mempertahankan, itu pilihan.
Kalo jalan keliling Boyolali, gak sedikit tempat yang berubah. Mungkin lokasinya sama, namanya sama, tapi bangunannya beda. Tapi apapun itu, tanpa perubahan, hidup gak akan ada nostalgia. Seperti saat ini.
Mengenang yang lalu-lalu memang selalu sukses membuat rindu. Seperti ingin kembali, tapi apalah, pengecut namanya jika takut perubahan. Takut untuk berkembang karena sudah nyaman dengan sekarang. Takut melangkah karena takut salah arah. Payah.
Enjoy and let's face the world.