Akhir-akhir ini kesedihan sedang mendekap. Membawa kesendirian untuk mengusir segala keramaian. Aku terbenam oleh sang waktu yang mulai bertanya, "sampai kapan kamu terus begini?". Pertanyaan yang selalu muncul dan membuatku semakin di dekap kesedihan.
Perih semakin menghujam dan kesendirian semakin menghangat. Membuatku semakin nyaman untuk terus begitu. Masokis.
Waktu mulai menggila dan liar untuk bertanya. Otak mulai menjadi musuh yang terkadang ingin aku lepas. Dan sejenak tanpa otak.
Aku benci ketika aku tidak bisa mengakhiri. Berkata tidak untuk apapun yang tidak aku suka. Aku benci ketika ada manusia lain yang menyetir pilihanku. Menyuruhku untuk sampai ke hari terang, yang aku rasa itu tidak bijak. Simbiosis macam apa? Parasitisme?
Dan hari ini, aku mencoba melepaskan dekapan kesedihan dan datang di keramaian. Awalnya sangat canggung, namun lama-kelamaan semua cair. Aku mulai merasakan peredaran darahku lancar. Ya, aku bahagia.
Namun, ...
Entah darimana asalnya, sebuah pedang muncul begitu saja dan menusuk saraf kebahagiaanku. Konslet. Aku berubah mood dengan cepat.
Tanpa basa-basi, aku pergi dari keramaian. Membiarkan semua kekacauan mengambang begitu saja.
Kali ini kesendirian datang menghampiri tanpa kesedihan. Tidak, kesendirian tidak membawaku pergi, tapi akulah yang membawa kesendirian untuk pergi bersamaku.