Minggu, 11 September 2016

Kelaaaarrrr

Kelar sudah baca buku Milea (Suara dari Dilan). Dua buku pertama itu sudut pandang Milea, sedangkan buku ketiga adalah sudut pandang Dilan. Banyak yang gak disangka, terutama dari ceritanya itu seperti banyak kesalah pahaman.

Tapi buku ketiga cukup banyak membantu dalam menjawab setiap misteri yang diceritakan sebelumnya.

Gemaaasss! Setiap detail ceritanya bagai sihir yang membawa perasaan ikut larut. Apalagi buku kedua, emosi rasanya meledak-ledak. Halah. Sok iye lu, Rum! 

Di buku ketiga mungkin jarang tertawa seperti di buku pertama, tapi yang aku suka adalah ketika lebih banyak mengenal teman-teman Dilan. Aku suka cara Dilan yang menghargai siapa temannya dan tidak merasa paling benar. Aku suka kebijaksanaannya untuk memilih diam daripada beradu pendapat.

Dan kemarin, resmi sudah aku memiliki tiga buku tersebut. Aku mendapatkan dengan cara yang berbeda-beda.

Dilan #1

Asal mula aku tau cerita ini dari Alitt. Dia nge-tweet, intinya gak sia-sia mehabiskan 2 jam untuk baca cerita itu. Dia share link-nya, aku klik, aku baca. Samaan deh sama Alitt!

Aku selalu menunggu kapan Pidi Baiq akan menambah ceritanya. Aku selalu cek secara berkala sampai pada akhirnya cerita tersebut dibukukan. Aku harus beli. Pikirku,

Banyak Pre-Order edisi tanda tangan Pidi Baiq. Tapi aku ragu dan memilih untuk menunggu ada di Gramedia Solo. Akhirnya begitu. Aku menunggu dan cek tiap hari kapan ada di Gramedia. Bukan, bukan tiap hari ke sana, tapi lewat web-nya. Aku ketik "Dilan". Hari pertama belum ada, kedua, dan seterusnya sampai lupa juga belum ada.

Pada suatu hari akhirnya ada. Belum ada cover-nya sih, tapi dari namanya benar itu bukunya.

Gak langsung beli, nunggu hari libur dulu.

Pas ada waktu, ke sana deh. Itu kan di lantai 2 ya, naik tangga dulu. Pas naik, tengok kanan kiri, bukunya ada di depan mata ternyata. Lurus. Gak di kanan maupun kiri.

Dan kamu tau apa? One and only one!!

Yoi. Benar-benar cuma satu di rak tersebut. Ya aku gak tau di gudang masih ada apa gak, tapi ya pokoknya di situ tinggal satu.

Dah.

Dilan #2

Kalau ini PO di Katalis Books Bandung. Hari pertama pembukaan PO langsung tancap gas. Dan alhamdulillah dapat!

Gak susah dan gak nunggu lama. Ada tanda tangannya Pidi Baiq yang menurutku unik.

Tiba-tiba, Pidi Baiq bikin pengumuman kalau mau ada buku ketiga dengan Dilan yang menceritakan. Aku bilang ke kakak yang Katalis Books (kalau gak kenal panggil aja kak), kalau mau PO buku ketiga di situ juga.

Maafin aja, anaknya emang sok iye kalau lagi senang.

Dah.

Milea

Ah ini, susah payah tapi gak payah-payah amat. Aku selalu menunggu kapan PO akan dibuka. Aku mantau perkembangan PO itu di twitter, nah aku jarang banget buka. Pas buka, tau-tau telat. Udah PO hari ke lima.

Aku udah agak hopeless, takut kalau kehabisan. Dan benar kan, pas aku mau chat Katalis Books, statusnya "PO Milea sold out!". Aku cek kapan buat statusnya ternyata tiga hari lalu. Kocak!

Aku masih berusaha chat dan menanyakan, fast respond. Dia jawab kalau udah habis, lalu dia menyarankan untuk cek di @mizanmediautama. Dengan berbekal niat, akhirnya cek. Akun tersebut banyak me-retweet tentang toko buku online yang masih buka PO. Aku buka satu-satu.

Ada dua lagi yang aku hubungi. Yang kedua itu sistemnya seperti belanja lewat web. Yang ketiga biasa.

Aku lagi gak ingin belanja lewat web, maunya chat aja, soalnya udah hari ke lima. Untung ada CP-nya, langsung aku chat yang kedua. Sembari menunggu balasan, aku chat yang ketiga.

Akhirnya di respon yang kedua kalau bukunya masih ada. Aku langsung keep dan disuruh bayar hari itu juga karena "siapa cepat [bayar], dia dapat". Yaudah, bergegaslah mencari bank. Syukur alhamdulillah bukan hari Jumat.

Yang ketiga telat merespon, responnya buku edisi khusus udah habis, tinggal buku yang biasa. Akhirnya aku menolak secara halus.

Lama. Kisaran tanggal 23 apa ya, harusnya buku siap kirim, tapi karena baru dikirim dari penerbit utama ke toko buku online tanggal 27 (kayaknya) ya akhirnya jadi lama. Apalagi didahulukan yang daerah Jabodetabek.

Aku dapat nomor resi tanggal 3. Aku mantau lewat nomor resi tersebut. Jadi gitu ya rasanya, warbiyazah. Biasanya kalau aku belanja online, barangnya sampai duluan sebelum aku dapat nomor resinya. 

Tanggal 8 barangnya sampai dengan selamat. Tapi yang nerima bukan aku, aku kan ngirim ke kantornya mama. Rawan kalau di kos.

Kamu tau? Aku PO buku di Bekasi, berat di ongkir jadinya, sekalipun udah di diskon, tetap aja jatuhnya lebih mahal daripada buku dengan harga normal. Balada PO jauh-jauh.

Dah.

Begitulah kiranya cerita bagaimana aku bisa mendapatkan bukunya. 

Yang aku pelajari adalah, masa lalu bukan untuk dihakimi. Biarlah ia tetap berada di masa lalu tanpa perlu menyesali apa yang telah terjadi. Dan tentunya, janganlah mengambil keputusan atas dasar sangkaan. Karena jika suatu saat kamu tau kebenarannya, maka semua sudah terlambat.