Jumat, 10 Februari 2017

Ruang sendiri


"Kamu gak bisa maksain seseorang buat suka, tapi kamu bisa buat orang untuk nyaman. Caranya gimana? Pahami karakternya."

Kalimat di atas yang sukses buat nangis. Hahaha. Tiba-tiba aja merasa "kok bebannya gini banget ya ternyata?". Antara telat nyadar atau emang dari awal gak mau merasakan. Dalam artian, ya aku tau bebannya gak akan mudah, tapi yaudah, jangan dianggap beban.

Acuh. Mungkin begitulah aku. Jadi teringat sebuah kertas yang seseorang tuliskan tentang aku. Dia tuliskan,

Gadis pintar satu ini.
Seringnya membuka perasaan.
Dan tak terlalu memikirkan sakit di dalam. Dan ia bersembunyi.
Arum.

Five years ago. Saat aku duduk semeja dengannya.

Mungkin ada benarnya. Hahaha.

Saat ini aku sedang berusaha untuk semakin dewasa. Berusaha memahami setiap kepala. Memahami do and don't setiap orang. Gak mudah memang. Tapi bukan berarti gak bisa. Ya kan?

Saat aku down, aku ingat-ingat kembali apa yang pernah terjadi di awal. Saat aku berkata "iya", saat tangisan pertama di tengah gelap, saat dimana aku bangkit.

Pernah terjadi. Ada titik dimana aku benar-benar down. Tapi aku berusaha untuk tersenyum. Untuk pertama kalinya. Dan rasanya, sangat teramat menyakitkan. Inginnya sendiri, tapi keadaan memaksa untuk bertemu orang-orang. Tidak nyaman, tapi mulai dibiasakan.

Aku orang yang tidak pernah mengondisikan diri sendiri. Kalau badmood ya badmood. Kalau sedih ya sedih. Lebih milih sendiri. Pasti. Kenapa? Aku memberikan waktu untuk diriku sendiri agar merasakannya.

Tapi...

Perlahan mulai dikondisikan. Kalau badmood, suka bilang dalam hati "sabar sabar sabar". Kalau sedih juga gitu. Intinya jangan dirasain terlalu lama. Padahal ya biasanya cuma satu atau dua hari doang. Hahaha. Sekarang beberapa menit aja.

Ya, hal yang konstan adalah perubahan. Gak ada yang gak bisa, yang ada hanya gak mau. Hati itu harus lunak, biar kalau ada masukan gak mental. Katanya sih gitu.