Rabu, 21 Februari 2018

Dilan Dilan Dilan


Akhirnya menjadi bagian dari jutaan penonton yang nonton film Dilan 1990.
Alasan kenapa baru nonton adalah... Pertama, terlalu banyak yang mau nonton, males gitu kalo di bioskop pada ea-ea-ea. Mengganggu konsentrasi dan feel-nya justru gak dapet. Kedua, kurang berminat dikarenakan takut tidak sesuai buku. Katanya sih bagus, Iqbaal memerankan Dilan benar-benar bagus. Okay, that's good. 👍

Alasan pertama berujung tetap saja ada yang ea-ea-ea. Bahkan ada yang teriak, "habis ini kerupuk nih". Teriak. Woy! Bikin kesel dah.
Karena aku sudah menonton, nah aku mau berbagi review. In my opinion, ada yang kurang. But, so far, tetap bagus. Hanya saja...

Beberapa cerita di buku yang aku nantikan bagaimana visualisasinya justru gak ada. Seperti scene waktu Milea diajak ke ITB sama Kang Adi. Di situ harusnya bisa jadi scene yang wah banget. Kenapa? Karena benar-benar menyebalkan. Penasaran gak sih waktu Kang Adi nganter Milea pulang dan ekspresinya gimana gitu? 😕

Nah... di situ. Apalagi tawa Milea dan Dilan terkesan kurang lepas. Terlihat acting. Jadi scene yang harusnya lawak, menurutku jadi garing. Hehehe. Pendapatku loh yaa!

Mungkin juga karena aku nontonnya di akhir, jadi scene kayak rindu itu berat, krupuk dibagi dua, orang akan hilang jadi biasa karena udah tersebar dimana-mana. Tapi...

Ada scene yang keren menurutku. Waktu Dilan bilang, "KEPALA SEKOLAH NAMPAR LIA, KU BAKAR SEKOLAH INI". Asli itu keren banget. Feel-nya dapet parah! Kayak emosinya, dari nada bicaranya, wow.
Sama scene yang buat deg-deg-an itu waktu ada geng motor nyari Anhar. Apa karena backsound-nya makanya jadi takut gitu ya? Kayak langsung mikir aja gitu, zaman segitu geng motor jadi hal yang wajar, berantem jadi sesuatu yang sepele. 😐

Semoga... orang-orang yang nonton Dilan 1990 itu enggak meniru buruknya. Sebenarnya bukan buruk (ketika tau alasan Dilan), hanya saja ketika diterapkan di zaman sekarang menjadi hal yang buruk. Semoga bisa lebih bijaksana, untuk tidak menghakimi masa lalu atas apa yang terjadi di masa kini (kata-kata Dilan). 😉