Selasa, 04 Desember 2018

Sedikit ada faedahnya

Jam menunjukkan pukul 4:45 AM. 15 menit lagi bakal ada saut-sautan alarm hahaha. Tadi tidurku jam 12 lebih, gak tau, gak ngantuk dan mainan HP doang, gak melakukan hal berguna. Akhir-akhir ini aku aktif di Twitter. Merasakan lagi "aku" yang dulu. Ketika aku aktif di Twitter, pasti bakal mempengaruhi mood-ku buat nulis di Blog. Dan yapp! Kalian bisa lah lihat aku mulai mengaktifkan Blog lagi dengan banyak cerita.

Mungkin ada yang bertanya-tanya. Apa semenjak gak sama dia terus jadi nulis gitu? Caper apa gimana?

Enggak sama sekali. Justru karena aku merasa saat itu gak punya temen cerita. Bingung mau cerita ke siapa, bingung mau nangis-nangis ke siapa, bingung mau gimana-gimana. Yaudah, akhirnya "menulis". Setidaknya bisa mengurangi pikiran. Tiap nulis, kalo kalian memperhatikan, mayoritas aku selipkan "makna", weitss, jan salah. Gini-gini juga mikir anaknya hahaha. Setiap kali cerita, sebanyak itu juga selalu menyemangati diri sendiri.

Misal lagi sedih, pasti yaa "jangan sedih", "jangan berpikiran negatif", "siapa tau gini", "aku kan gak tau yang terlihat". Gitu-gitu lah. Jadi Alhamdulillah beberapa hari terakhir bisa mengendalikan pikiran. Ya baru 3 hari terakhir sih.

Aku juga habis ada masalah. Nah ini, masalah sama orang tapi mungkin orang itu gak merasa itu masalah. Mau bilang tapi yaudah lah. Serius deh, di jalan tuh sampai nangis, bener-bener kayak apa yaa, sakit hati banget. Selama itu juga selalu mikir, berusaha mencari suatu hal yang bisa bikin pikiran kembali segar. Healthy inside, fresh outside. Hahaha.

Ya yaudah gitu lah, mungkin pas hari Sabtu banyak cincong tuh karena salah satunya itu. Aku mau melepaskan beban pikiran, aku mau menerima dan ikhlas sama apa yang udah terjadi, aku mau berdamai dengan diriku sendiri, dan aku mau memaafkan dia.

Semenjak itu jadi ada pelajaran berharga. Iya, jaga lisan. Kamu gak tau apa yang dia rasain, jadi jangan sampai lisanmu menyakiti. Kamu gak tau apa yang dia pikirin, jadi jangan sampai merasa paling benar sampai tidak mau mendengar. Dan untuk diri sendiri, hati gak boleh tertutup sampai gak mau menerima perbedaan pendapat. Diri sendiri gak boleh minta selalu dipahami, harus bisa mengerti kondisi orang lain. Hati manusia itu rumit, makanya minta selalu dilembutkan sama Allah. Eaa..

Pagi-pagi bahasnya berat amat yaa. Hahaha. Lagi bisa cerita ini, memendam yang ada di hati ternyata cuma menyakiti hati juga.

Selain itu, caraku untuk mengurangi beban pikiran ya dengan mengurangi intensitas "tau" kegiatan orang lain. Caranya? Mengurangi lihat stories IG dan status WA orang lain. Aslinya masih pengen gitu kan lihat, tapi kayak yaudah jangan, nanti jadi beban pikiran. Paling cuma segelintir yang teratas gitu, terus udah, gak usah lihat lagi. Daaaan, bener kan, rasanya plong. Kayak gak ada yang meracuni otak buat mikirin kehidupan orang lain.

Setiap kali pengen lihat, alihin dengan main Twitter atau lihat explore di IG. Aku kalo lihat explore itu yang tak cari pasti makanan sama lifehack gitu. Seru aja lihatnya. Jadi yaudah deh hahaha.

Segitu dulu ceritanya, intinya adalah... hati-hati menjaga hati. Eaa..