Sabtu, 14 Maret 2020

It's been a year

Membuka awal usia 22 tahun dengan sangat manis, jatuh cinta dengan orang yang mencintaiku dalam diam selama bertahun-tahun. Berpacaran dengannya seakan jika itu mimpi aku berharap untuk tidak pernah bangun. Orang itu adalah orang yang membawaku berani melangkah jauh tapi tidak bersamanya. Hai kamu, semoga selalu sehat dan bahagia!


Genap juga usiaku jadi ganjil. Melewati satu tahun yang sangat berat! Kali ini harus aku tekan, sa-ngat-be-rat-! Kalo lagu secukupnya dari Hindia udah ada, mungkin lagu itu bakal jadi teman pelepas penat terbaik.

Tubuh yang berpatah hati, bergantung pada gaji
Berlomba jadi asri, mengais validasi

Mengais validasi. Ingat waktu habis wisuda, debat hebat sama papa karena kekeuh mau cari kerja di Jakarta. Aku yang mungkin pendiam di rumah, bisa jadi se-durhaka itu. Kalo aku pikir lagi, papaku itu baik. Membiayai kuliahku di jurusan yang papa gak mau sampai mengikhlaskan anaknya mengadu nasib di ibukota. Pasti beliau keberatan, tapi demi anaknya, beliau rela. Lebih tepatnya, ya mau gimana lagi, ini bocah satu keras kepalanya kayak batu.

September-Oktober. Masa-masa dimana aku belajar mandiri sekaligus sosialisasi. Tinggal sama keluarga baru yang aku kenal waktu bulan Juni. Kadang aku bertanya dalam hati, kenapa Allah membawaku secepat ini ke Jakarta tapi selama 2 bulan aku masih jobseeker? Jawabannya adalah... mungkin bukan aku pemeran utamanya, tapi keluarga baruku. Sering aku dengar "untung ada Arum" berkali-kali. Sering aku dengar mereka bersyukur dan berharap aku seterusnya bisa di situ.

Kalo misal aku mendapat pekerjaan lebih cepat, ceritanya pasti gak akan kayak gini. Aku gak akan get lost sendirian, belajar gimana caranya naik transportasi umum, belajar berani, belajar bicara, dan yang paling penting belajar sabar. Sampai bulan November aku resmi punya pekerjaan dan mengharuskan aku untuk pindah ke lain kota.

Cikarang. Kota yang pertama kali aku dengar ketika wawancara.

"Kamu mau ditempatkan di Cikarang?"
(Cikarang itu mana bu?)
"Jakarta-Bekasi-Cikarang-Karawang, tapi masih di Bekasi"
(Oh iya, mau bu)

Cikarang. Kota yang membuatku jauh lebih tangguh dari diriku sebelumnya. Kota yang membuatku bersyukur berkali-kali lipat karena ditempatkan di sini, bertemu dengan orang-orangnya, tapi tidak makanannya.

"Sis hijab lu mundurin dikit, kayak anak pesantren tau gak"
"Sis blush on nya kurang"
"Sis pake eyeliner deh mending"
"Sis lipstiknya kurang merah, itu ungu malahan"
"Oke dah bagus, kurang pake alis aja"

Cikarang. Kota yang membuatku lebih memahami bahwa yang orang lakukan saat ini adalah bertahan.

"Lu kalo ada apa-apa tuh bilang, jangan diem aja"
"Rum, tapi bener deh, banyak tau yang peduli sama elu"
"Siapa yang ngajarin arum ngomong anjir? Muka pesantren kayak gitu"
"Lu kalo marah serem tapi malah pengen gue jailin lagi"

Teruntuk aku, diriku, sayangku. 

Aku udah gak tau berapa banyak senyum palsu yang kamu perlihatkan. Berapa banyak air mata yang kamu seka sendirian. Berapa banyak doa minta kesabaran yang kamu panjatkan. Aku tau pasti lelah hidup dalam penyesalan selama satu tahun. Setiap apa yang mata lihat, otak merekam kenangan, dan hati... ah hati yang terus belajar untuk ikhlas.

Pada akhirnya, apa yang ingin aku katakan adalah terima kasih. Terima kasih sudah berjuang! Kamu terbaik, terhebat, yang pernah aku temui. Terima kasih untuk terus berjalan meskipun aku tau betapa inginnya kamu untuk berhenti. Terima kasih untuk selalu meng-gapapa-kan banyak hal, padahal aku tau sulitnya untuk menerima kenyataan. Once again, terima kasih untuk setiap kemauan untuk belajar dan bertahan yang selalu jadi prinsipmu untuk berjuang!