Rabu, 20 April 2016
Pagi itu, aku terburu-buru. Bukan karena semangat, tapi aku harus segera nge-print beberapa surat. Aku takut antri, karena gak mau telat. Dosen baru, dosen disiplin, katanya.
Setelah menyalakan paket data, aku membaca pesan dari mbak Yuna. Segera aku buka laptop dan mengedit format surat.
Aku bergegas mandi. Setelah mandi, aku santai-santai dulu menunggu jam 6:50. Yaa, 10 menit lagi.
6:50. Aku keluar kamar dan mengeluarkan motor. Sejujurnya, aku tidak fokus. Aku menatap Indomaret dengan perasaan yang sebenarnya putus asa. Entah kenapa.
Di pertigaan keluar gang, aku ke kanan. Aku melihat ibu-ibu berjalan lambat, tapi ternyata beliau menepi untuk belanja. Bergegas aku ke kanan, tanpa tengok ke kiri. Aku memacu motorku sambil menengok spion.
Yaa, karena ada yang mengklakson. Spion-ku terlalu rendah, jadi aku harus melihat sedikit ke bawah. Aku baru sadar, ternyata aku terlalu ke kanan. Tepat di depanku ada dua anak sekolah yang berboncengan. Entah saat itu aku mikir apa, aku kaget.
Benar-benar kaget. Bayangkan, kecepatanku termasuk tinggi, dan dia juga. Sama-sama tidak pakai helm. Parah.
Alhamdulillah. Reflek kita bagus. Aku ke kanan dan dia ke kanan juga (menurut arah masing-masing). Seharusnya mungkin ke kiri. Untungnya dari arah sebaliknya tidak ada kendaraan. Jika iya, mungkin aku sudah tamat. Yang aku pikirkan justru kepalaku.
Semisal kita sama-sama tidak reflek, mungkin kita benar-benar tabrakan. Kau tau? Itu benar-benar dekat dan tepat di depanku.
Kalau benar tabrakan, mungkin luka terberat adalah kepala. Sudah pasti aku terlempar, tidak mungkin ke samping.
Setelah banting stir, aku ndredeg. Tanganku bergetar. Benar-benar takut. Dan yang tadinya tidak fokus, malah bubar. Iya, jadi kosong.
Teringat kejadian akhir tahun. Aku nyaris menabrak mobil yang berhenti mendadak di depanku, aku berhasil tidak menabrak, tapi motor dibelakangku, dia menabrak. Alhasil dia jatuh. Parahnya, mobil di depanku tidak berhenti, dia tetap melaju.
Aku ndredeg. Aku cemas. Aku merasa bersalah sama motor yang jatuh tadi. Mungkin dia berusaha menghindariku tapi malah menabrak mobil di depanku. Kau tau? Benar-benar merasa bersalah.
Yang mau aku syukuri hari ini, aku masih diberi kehidupan. Bahkan aku tidak terluka sama sekali. Hanya kaget.
Ah..
Masih tergambar jelas kejadian tadi, takut. Benar-benar takut.