Bukan berusaha
Namun memang seharusnya
Kita tidak menuntut apa-apa
Bukankah sudah cukup?
Dia berada di sini
Dan tidak pergi
Selamat malam hati-hati yang terdengar patah. #tsah
Lagi menunggu e-mail terkirim nih. Bukan ding, lebih tepatnya file-nya siap kirim. Susah amat dah sampe gagal. Selagi menunggu, mari menulis mengetik.
LINE Webtoon. Duh kecanduan. Parah banget.
Sebenarnya aku bukan tipikal orang yang suka baca komik. Kenapa? Karena tidak tau cara bacanya. Iya sih, komik itu bergambar dan terkesan tidak membosankan dibandingkan dengan buku yang tebelnya saingan sama dempul kamu (read: novel). Aku bingung gimana cara bacanya, dari kanan ke kiri, atau atas ke bawah, atau muter-muter, atau gak usah dibaca aja kalik ya.
Tapi semua berubah, ketika aku menyukai komik di Instagram. Mayoritas hanya 4 kotak dan lebih mudah untuk dibaca. Singkat, tapi kadang penuh makna. Karena aku anak kos dan menghemat kuota, kalau ketemu wifi biasanya baru baca komik di Instagram. Tapi lebih seringnya di rumah sih.
Ada salah satu komikus Instagram yang aku follow, dari dia sering update sampai jarang update karena mau dibukukan ceritanya. Keren ya? Sampai buat buku begitu.
Bahkan ada yang sampai berkali-kali masuk 9GAG.
*standing applause*
Terus hubungannya sama Webtoon?
Nah ini, tahilalats. Udah pada tau kan pasti? Komik yang menurutku di luar logika. Ceritanya juga gak terduga dan hampir sulit diterima logika. Semacam thinking outside the box. Jadi jalan ceritanya sulit ditebak dan pasti penuh kejutan.
Awalnya aku gak tertarik baca tahilalats di Webtoon, sampai pada akhirnya aku gabut dan penasaran sama Webtoon. Akhirnya aku baca lewat web, gak aku download, takut menuh-menuhin memori. Episodenya udah ratusan. Jadi bacanya puas, soalnya banyak dan pastinya beda cerita sama yang di Instagram. Pas baca tahilalats, ada baiknya dinikmati dan gak perlu dipikir panjang-panjang. Ya biar dapet feel-nya aja.
Ya gitu deh. Two thumbs up lah buat kreatornya!
Terus kok sekarang punya aplikasinya?
Nah, singkat cerita. Aku tanya ke temen-temenku, bisa gak sih Webtoon dibaca offline, katanya bisa. Langsung aja aku minta aplikasinya (males download). Pas udah di instal, aku nyoba buat offline. Dan ternyata gagal pemirsaaahhh......
Katanya offline itu kalau aku download episodenya, Hmm. Hmm. Hmm. Yaudahlahya, udah terlanjur di instal, sekalian baca yang lain.
Aku inget banget, pertama punya itu hari Minggu dan besoknya UTS. Aku matiin lampu kamar dan siap tidur, tapi aku belum bisa tidur, jadi aku baca Webtoon. Aku baca My Pre-Wedding. Anak Webtoon pasti tau. Sumpah ya, parah banget. Itu aku baca sampai jam setengah 12 malam apa ya. Kecanduan banget asli. 18 episode aku baca sampai selesai.
Aku khilaf.
Komik di Webtoon itu mudah dibaca, soalnya baca dari atas ke bawah. Jadi lebih jelas dan aku gak bingung bacanya~~~ apalagi cakep-cakep~~~ lalalala~~~
Ya begitulah, terima kasih buat komikus Indonesia. Teruslah berkarya! Dan jangan bosan untuk selalu menghibur. :3


