Aku disebut berdarah dingin. Kadang aku berpikir, bukankah semua manusia berdarah panas? Lantas makhluk macam apa diriku ini?
Tidak. Itu hanya sebutan oleh sebab kelakuanku. Suka datang tiba-tiba jika masuk rumah. Dan banyak hal lagi, hanya orang rumah yang tau.
Aku anak kedua dari empat bersaudara. Kakakku perempuan, adikku laki-laki (Alm.) dan perempuan. Aku menyayangi mereka sebagaimana suatu keharusan. Kalau tidak, bisa di depak aku dari rumah.
Ayahku, ah tidak, Papaku, beliau asli Jogja. Mamaku asli Semarang. Jogja dan Semarang lalu tinggal di Boyolali. Seperti tengah-tengahnya. Aku lahir Jogja tapi akta Boyolali. Sebenarnya aku tidak setuju, kalau aku dari bayi sudah bisa protes, pasti aku protes. Tapi ya mau gimana, bisanya cuma nangis, dasar bayi.
Papaku seorang yang keras.
Ambigu. Keras apanya?
Semuanya. Didikannya sangat keras. Berbeda dengan Mama yang cenderung lemah lembut.
Tapi aku tidak mau membahas itu.
Aku tinggal di Boyolali, tapi sudah berkali-kali pindah. Pertama, di Jl. Merbabu. Ada sumurnya, aku masih ingat. Belakang rumah seperti hutan. Yang aku ingat hanya sedikit. Memori masa kecil. Seperti, coretan yang aku buat di tembok rumah. Lalu bersembunyi di bawah meja waktu ada orang gila lewat.
Lah? Ingatan macam apa ini?
![]() |
| Terkalem 2001 (atau 2002) |
![]() |
| Ke-ma-yu |
Lanjut...
Setelah dari Jl. Merbabu, kita pindah ke Pambraman (Banaran). Dulu aku susah nyebutnya, selalu kebalik-balik sama Candi Prambanan. Ah begitu pokoknya.
Aku TK di daerah sini. Kira-kira 100 meter dari rumah. Aku punya teman pulang bareng. Namanya Fian, dia laki-laki.
Pulang-bareng-zoned.
Yang aku ingat, gempa 2006 (ya bukan ya?) itu waktu aku di sini. Aku mau mandi, aku naik kursi buat ambil baju, dan tiba-tiba bergoyang, dan boom... terjadilah gempa. Dan di situlah pertama kalinya aku merasakan gempa.
Sebenarnya banyak cerita, ingin aku tuliskan, tapi sepertinya tidak perlu.
Selanjutnya, aku pindah ke Surowedanan (Pulisen). Ah. Itu adalah rumah favoritku. Benar-benar favorit. Kamarku memang lebih kecil daripada kamar di Pambraman. Tapi sangat nyaman. Terutama karena ada jendelanya. Yap, aku sangat menyukai jendela.
Rumahnya besar dan luas. Ada rumah cabang. Eh bukan, rumah pemiliknya di dalam. Rumah kecil. Aku sering ke situ hanya untuk lihat-lihat barangnya. Ada banyak buku cerita. Dan yang paling aku suka adalah puzzle. Banyak puzzle dan sudah aku selesaikan. HA!
Rumahku dekat dengan SMP-ku. Kadang jalan kaki, kadang naik angkot, tapi kalo naik angkot suka muter-muter dulu, biar serasa rumahnya jauh.
Selain itu apa ya, yaa intinya aku rindu sekali dengan rumah itu. Sederhana. Bangunan tua. Jendela. Tetangga yang ramah. Teman yang sepantaran. Sangat menyenangkan.
And the last one...
Jl. Perintis Kemerdekaan (Pulisen). Kalo ditanya, aku selalu menyebutnya dengan Boyolali kota. Padahal Boyolali bukan kota. Boyolali itu Kabupaten, tidak ada Walikota, adanya Bupati.
Dan satu lagi, kota mana yang dilewati bis dan truk? Hahaha. "Kota" yang sebenarnya itu Banaran. Pulisen itu apa ya, luas lah. Tapi termasuk kota juga menurutku. 5 menit dari Pasar Boyolali.
Aku menghabiskan masa SMA-ku di sini. Dekat dari rumah lagi. Yap. Aku merasa setiap kepindahanku selalu dekat dengan jarak sekolahku.
SD-ku di Jl. Garuda, dekat dengan rumahku yang di Banaran. SMP-ku di Jl. Merapi, dekat dengan Surowedanan. Dan SMA-ku di Jl. Kates, dekat dengan Jl. Perintis Kemerdekaan.
Kalo ada tugas menggambar jarak rumah ke sekolah, aku tidak akan pernah kesulitan.
Semuanya hanya tinggal lurus.
Kamu tidak akan pernah tersesat mencari rumahku. Banyak plang (penunjuk arah). Yap, Papa itu dokter gigi, jadi ya harus begini.
Akhir kata...
Aku sering pindah rumah, tapi semua tetap menyenangkan. Apapun itu, akan selalu menyenangkan jika disyukuri kan?

