Kamis, 29 Juni 2017
It takes time
Habis lihat stories adik tingkat tentang film, tanya deh, itu film apa, katanya A Brilliant Young Mind. Sounds cool. Nonton deh.
Awalnya sedih sih, kayak "kok gitu banget sih?", tapi ending-nya woooaahhh... gagal paham wkwk. Daya dong rendah emang. Tapi yaaa, yang aku rasain lebih ke apa ya, "it takes time" to understand, to adapt, to feel, to live a life.
Tentang matematika, dia bilang dia tidak menyukai apapun melebihi matematika. Bahkan dia tidak suka ibunya karena ibunya tak paham matematika. Kehidupan jadi terasa lebih menyedihkan manakala sang ayah tiada dan ibunya berusaha untuk memahami dia. Sampai seseorang datang... dan dia mengerti arti kehilangan (yang berarti cinta).
Tersuratnya begitu, tersiratnya apa ya?
Gak sih, aku lebih memikirkan tentang apa yang aku rasakan. Yes! Mathematics.
Dua tahun bertahan di Matematika, belajar kalkulus, aljabar, graf, numerik, statistik, apapun. Aneh. Hahaha. Aku memiliki masalah pada ingatan, hanya bisa ingatan jangka pendek, mungkin karena tidak pernah belajar.
Saking tidak sukanya aku dengan mata kuliahnya, aku malas belajar, hingga kutemukan semangat belajar saat semester ini hampir berakhir. Ah. Ku harus mencari semangat baru lagi. :(
Matematika itu indah. Apalagi waktu kamu berbicara tentang penerapan matematika. Eh, tapi yang berbicara harus orang matematika murni, bukan orang teknik, ekonomi, dll. Beda rasanya. Seperti berimajinasi tapi bisa jadi kenyataan.
Benar-benar suatu keindahan.
Jujur yaa, sedih pas ketemu keluarga besar, ditanya ambil jurusan apa. Pas mereka tau jawabannya, reaksinya itu loh.
"wah, jadi dosen ya?"
"walah hebat banget"
"wah, cerdas anak matematika"
Padahal mungkin yang ada di bayangan mereka adalah "matematika mau jadi apa?". Astaga suudzon. Ehehehe.
Ada seseorang yang bertanya demikian dan aku hanya menjawab "sesuatu yang tidak bisa dibayangkan". Gimana yaa, yaa gitulah.