Minggu, 10 Maret 2019
Benar dan salah
Dua minggu gak cerita apapun di sini hahaha. Seminggu pertama sebenarnya ada kejadian menarik, seminggu kedua justru lebih menarik. Tapiii, di cerita ini aku gak mau merangkum semuanya, hanya menulis apa yang mau aku tulis.
Beberapa hari sebelumnya sempat mengalami kesedihan, kekesalan, dan rasanya bisa bikin bete seharian. Overthinking mungkin, agak menyesali juga kenapa aku memilih ini. Cuma aku mikir lagi, lah buat apa disesali? Bukannya pasti tau hari ini akan datang? Kenapa harus ragu?.
I'm trying my best to be okay. Sooooo hard. Gak bisa bodo amat gitu aja, gak bisa mikir yang positif-positif. Selalu yang terpikirkan itu negatifnya. Gak bisa nangis juga karena sibuk menyalahkan diri sendiri. Gak bisa marah karena bingung mau marah ke siapa selain diri sendiri. I was blaming myself.
Akhirnya aku coba cerita ke seseorang. Aku coba bicara apa yang aku rasain. A=aku, D=dia.
A: aku kesel (cerita panjang x lebar)
D: mmm, jadi kamu mau gimana?
A: gak tau
D: kamu mau milih (menyebutkan pilihan)?
A: buat apa aku milih yang menurut orang benar, toh aku juga punya perasaan dan aku juga harus menjaga perasaan
D: gapapa kalo akhirnya itu pilihan kamu
A: aku kesel sama aku sendiri
D: gak perlu
A: kenapa?
D: gak ada yang kamu kecewain, kamu juga gak memperlakukan buruk orang lain
MAU NANGIS RASANYA. Tadinya ragu-ragu sama pilihan sendiri, cuma modal alasan myself first, takut kalo alasan itu egois, dan sekarang aku benar-benar yakin sama pilihanku sendiri karena dia. Dia menenangkan dengan caranya yang menurutku manis. Dia gak bilang yaudah sih gitu doang atau baperan amat sih. Dia gak menyalahkan aku padahal tau kalo awalnya itu pilihanku.
Let me tell you something.
Dia tau apa yang aku rasakan selama ini. Dia tau apa yang aku usahakan, dia tau apapun. Orang lain cuma tau apa yang mereka lihat tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi. Orang lain boleh bilang itu hak-ku, sekaligus menghakimi keputusanku. Tapi, buat apa aku sibuk memikirkan kata orang, sibuk berada pada popular opinion, padahal mereka gak tau apa yang sebenarnya terjadi.
Kamu juga gak memperlakukan buruk orang lain.
Gak ada yang kamu kecewain.
Kalopun ada yang kecewa, itu bukan karena aku yang mengecewakan, tapi atas harapan mereka sendiri. Kalo ada yang merasa tersakiti, itu bukan karena aku yang menyakiti, tapi atas asumsi mereka sendiri. Silakan jika mau menyalahkan, tapi bukan kewajibanku untuk bertanggung jawab.
Kita benar menurut cerita versi kita. Kita benar menurut asumsi kita masing-masing. Orang lain terlihat salah di cerita versi kita. Maka duduklah dulu agar paham. Menghakimi keputusan orang lain tidak membuatmu terlihat bijak.