Minggu, 04 Desember 2016
Segala-galanya
Jumat malam tidurnya dibawah jam 9. Sepi sih ya. Tidur deh. Bangun-bangun jam setengah 1 pagi. Mainan HP dulu, terus tidur lagi jam 1. Bangun jam setengah 5. Mau sambut wisuda.
Rasanya sepi banget, atau lebih tepatnya kesepian. Sampai MIPA, dikabari disuruh ambil kunci di kosnya dia. Parah. Balik lagi. Ambil. Ke MIPA lagi. Sendirian. Bingung mau bawa ini gimana, kok gak ada orang.
FYI, pelepasan wisudawan dan wisudawati MIPA itu di Pusdiklat. Karena aula gedung B udah di sekat-sekat dan aula gedung C belum selesai di renovasi. Jadi yang pada mau menyambut ya di Pusdiklat.
.
.
.
[SKIP]
.
.
.
Udah di kos. Buka HP. Ada chat dari mbakku. Katanya dia pulang juga, jadi mending bareng sekalian. Okedeh. Sambil nunggu, tidur-tiduran. Enak ya kalau ada wifi, setidaknya gak begitu sepi-sepi amat, ya walau aslinya masih kesepian sih.
Aneh banget deh, bisa kesepian banget ditinggal mereka. Hahahahahaha.
Sampai rumah. Ketemu Syifa. Uh, kangen sekali. Tambah tinggi 3 cm dari bulan Juni. Kangen rumah. Sebulan gak pulang ternyata, tapi karena pindahan kos, jadi orang tua sering ke Solo.
.
.
.
[SKIP]
.
.
.
Bikin revisi lampiran, sempat bingung karena mau bikin diagram tapi kok gak bisa-bisa. Akhirnya nyoba-nyoba lihat di kuisioner yang udah ada diagramnya.
Ooooohhh, begitu buatnya. Nyoba deh. Dan begini hasilnya......
Berasa jadi anak statistika kalau gini caranya. Tapi, seru juga ya? Apalagi pas tau datanya demikian. Sebenarnya, paling enak kalau pakai SPSS. Bikin diagram gak bakal seribet ini. Data-datanya di Excel, diagramnya di Power Point. Yah, tapi apa daya aku gak punya SPSS. Hahahaha. Ribet gapapa, yang penting jadi. Tadaaaa~
Aku belajar banyak hal dari setiap kesalahan dan keribetan.
(((keribetan)))
Entah ya, dari awal periode, aku sering banget melakukan kesalahan redaksional.
Mungkin yang pernah baca cerita C.2.18 bisa paham gimana kesalahanku waktu itu. Mengulang perizinan berkali-kali. Hahahaha.
Mungkin cuma aku doang yang ribet, mungkin cuma aku doang yang gak paham, dan mungkin cuma aku doang yang gak bisa-bisa. Tapi......
Semua ada hikmahnya kok. "Pernah" itu segala-galanya buat aku. Pernah ini, pernah itu.
Experience is the best teacher, right?
