Sabtu, 30 Juli 2016

Dia, langit, dan batas


Dia terbang menjelajah langit. Seolah dia bebas. Dia mengepakkan sayapnya. Terus menerus sampai mencapai langit tertinggi.

Dia ingin menembus langit dan berada di tempat yang ia belum pernah datang. Dia ingin berada di luar angkasa.

Dia menginginkannya. Walau langit sudah memperingatkan jangan, tapi tetap, dia ingin.

Jauh. Semakin jauh.

Langit ingin sekali menangkapnya. Tapi apa daya, langit hanyalah langit.

Di batas antara langit dan luar angkasa, dia terdiam. Memandang sejenak, apakah akan melintas atau tidak.

Dia memandang sekeliling dunia, melihat langit, lalu dengan kepakan pelan, dia melintasi batas.

Dia berada di luar angkasa.

Dia senang. Sangat senang. Akhirnya berhasil mewujudkan keinginannya.

Dia menjelajah luar angkasa dengan suka cita. Lalu, perlahan tenaganya berkurang. Kepakannya mulai melemah.

Sekuat tenaga dia mencoba bertahan dan beradaptasi dengan luar angkasa. Tapi dia butuh bumi.

Lemah. Semakin lemah. Sayapnya patah. Dan jatuhlah dia.

Langit mengetahuinya. Apakah langit menangkapnya? Tidak, langit hanyalah langit.

Dia jatuh dan berada di tanah. Sayap yang patah tidak dapat membuatnya terbang.

Sekarang dia berada sangat jauh dengan langit. Dia hanya bisa melihatnya, tapi tidak bisa mendekat.