Kamis, 14 Juli 2016

Kertas Ajaib

Tadi ke Solo. Ke UNS.

Aslinya gak usah sampai UNS juga gapapa sih. Kan aslinya cuma mau ke BTN. Tapi, sayangnya buku tabungannya di kos. Agak males gitu sih. Gak nyangka aja musti ke Solo padahal belum ingin.

Pas sampai UNS, lewat gerbang belakang, terus nyeletuk, "lama gak ke sini". Oh iya, aku bertiga. Enggak sendiri.

Sampai kos, buka kamar, dan lihat sekeliling. Ya ampun, kangen juga sama ini kamar. Syifa yang masuk kamarku langsung bilang, "rapi banget mbak". Ya rapi lah, sebelum pulang aja aku bersihin dulu. Sayangnya udah berdebu lagi.

Aku ambil buku tabungan di laci meja. Terus aku cek apa ada map yang aku bawa, ternyata gak ada. Aku tutup kamarku dan ke kamar mbakku yang petjah abiz.

Habis itu kita ke BTN UNS. Aku disambut (kok disambut sih), salah, apasih, ya itu pokoknya, sama mas-mas. Nanya mau apa. Aku jawab aja mau dia bayar. Disuruh mengisi kertas yang ada di loker bertuliskan "JASA". Aku ambil.

Aku lihat dulu. Di semacam tutorial yang terpampang, itu untuk mahasiswa baru. Lah kan aku bukan mahasiswa baru. Aku punya NIM, bukan nomor pendaftaran.

Aku balikin kertasnya dan ambil slip setoran (sama kayak waktu aku bayar untuk semester II). Masnya tanya lagi, "ada yang bisa dibantu?". Aku jawab aja, "saya mahasiswa lama". Gak nyambung ya?

Ditanya lagi, bayar autodebet atau apa gitu (lupa). Aku jawab autodebet. Mas-nya paham terus bilang ke satpam kalau aku mau setor. Aku disuruh masuk ambil nomor antrian. Aku tanya, "gak usah ngisi?". Katanya enggak.

Aku dapat antrian ke 96. Aku duduk. Terus aku melirik sebelah, pada bawa kertas. Kok aku gak ya? Karena gak PD, aku berdiri terus mau tanya ke satpam. Lagi-lagi mas-nya yang nanya, "ada yang bisa dibantu?". Aku jawab aja, "ini beneran saya gak ngisi?". Oke maaf, itu gak jawab, tapi nanya.

Dengan senyum yang sedikit tertawa tapi mungkin kesel, mas-nya jawab, "gak usah mbak, nanti teller-nya sudah tau kok".

Yaudah aku duduk lagi. Nunggu antrian dan deg-deg-an. Takut ditanyain mana kertasnya.

Pas giliranku, ternyata emang gak butuh kertasnya. Aku kasih buku tabungan sama uang. Aku tanya, "kalau gagal autodebet, bayarnya kapan?". Dijawab dan ditanya, "Agustus, dulu gagal?". Serius aku lupa. Aku asal jawab, "iya". Ditanyain lagi, "taunya kalau gagal?".

Aduh berasa ujian.

Aku jawab, "di siakad gak jadi nol". Serius aku jawab gitu.

Dijawab lagi sama mbaknya, "gak kepotong maksudnya? Tapi di sini tertera gak gagal", sambil nunjukin buku tabunganku. Aku lihat terus mbaknya bilang, "siakadnya mungkin mbak, itu berhasil autodebet kok".

Yaudah sih. Aku hanya tersenyum. Habis aku tanda tangan di sebuah kertas, bukunya dibalikin ke aku. Aku berdiri dan gak pergi, nungguin kertas. Terus mbaknya tanya, "ada yang bisa dibantu lagi?". Aku jawab, "enggak". Terus dijawab, "terima kasih, silahkan". Silahkan pergi maksudnya. Yaudah aku pergi lah.

Aneh ya. Hanya selembar kertas padahal.

Apa karena bank BTN-nya di UNS, jadi beda sama bank BTN di luar UNS? Hmm. Mungkin. Atau sekarang prosedurnya baru? Ah atau jangan-jangan karena aku kedua kalinya bayar? Atau gimana? Gak paham.

Selesai urusan di UNS, kita makan. Terus balik ke Boyolali. Ke cucian mobil. Selesai dari tempat cucian, mampir ke tempat makan sebentar. Terus pulang.

Mau cerita pas makan tadi sih. Tapi gak usah deh. Kepanjangan. Lagian juga gak penting. Ya kan?